FOKUS JATENG – SOLO – Pendidikan di Indonesia dinilai baru mampu membuat siswa pintar, namun belum mampu membangun karakter. Akibatnya selepas bangku sekolah siswa belum mampu mandiri. Hal ini diungkapkan pengajar Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Drs. Suharno, MM, Ak, CA, MIPR, Kamis 13 Juli 2017.
Dengan demikian, pola pendidikan dan pembelajaran harus segera diperbaiki dan dibenahi dengan sungguh-sungguh. ”Tidak sekadar retorika semata,” kata Direktur Amalia Consulting, ini saat tampil sebagai narasumber workshop Menciptakan Pembelajaran Fun dan Antusias yang diselenggarakan SMK Bhakti Oetama, Gondangrejo, Karanganyar, Kamis 13 Juli 2017.
Baca juga: Lagu Indonesia Raya Dinyanyikan Tiga Bait di Sekolah-Sekolah di Solo
Pertama kali yang perlu dirubah adalah sikap dan perilaku guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. “Kurikulum tidak perlu gonta-ganti, sudah cukup ideal,” katanya.
Menurut Suharno yang juga Kepala Humas Unisri, permasalahan utama dalam pelaksanaan pembelajaran ada di guru. Sudah mendapat Bintek, namun saat di depan kelas mengajar tetap konvensional. Perannya masih dominan mengajar, orientasi pada target materi. Sehingga terkadang melupakan subtansi materi.
“Mestinya peran guru yang utama hanya tiga sebagai fasilitator, motivator dan evaluator ” ungkapnya.
Sehingga saat ini siswa menerima pembelajaran hanya pada tataran knowledge, skills nanggung dan atittude tidak tergarap sama sekali. Padahal kunci sukses sangat ditentukan pada atittude atau sikap mental yang merupakan landasan utama dalam membentuk karakter.
Baca juga: Guru MUHI Klaten Ikuti In House Training
Kepala SMK Bhakti Oetama, Gondangrejo, Karanganyar, Drs. H. Bambang R. Soetomo, MM, menjelaskan workshop diselenggarakan guna memotivasi para guru agar semakin profesional dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. (sto)