
Ritual Dukutan yang digelar warga Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar. | Suroto
FOKUS JATENG – KARANGANYAR – Bersih desa bagi masyarakat agraris adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penyelenggaraan prosesi ”Bersih Desa” tiap daerah atau desa berbeda-beda. Inilah gambaran atau potret bersih desa warga Nglurah, Tawangmangu yang lebih di kenal dengan istilah Dhukutan.
Warga Kampung Nglurah, Tawangmangu, kembali menggelar upacara adat Dukutan pada Selasa Kliwon Wuku Dukut tepatnya 8 Agustus. Upacara adat Dukutan kali kedua pada tahun 2017. Sebelumnya acara serupa digelar pada 10 Januari lalu . Dukutan diselenggarakan setiap enam lapan atau tujuh bulan sekali pada Selasa Kliwon Wuku Dukut.
Upacara dimulai saat iring-iringan sesepuh kampung, lelaki pembawa sesaji, ibu-ibu, dan warga lain menaiki tangga Situs Menggung. Lelaki pembawa sesaji mengenakan pakaian menyerupai prajurit. Atasan lurik dan bawahan celana selutut ditutupi jarit.
Mereka memanggul sesaji yang ditata pada tampah persegi. Tampah dari pelepah dan daun pisang. Isi sesaji sama, yaitu tungku berisi bara api dan kemenyan, aneka bunga, jajan pasar, hasil bumi, nasi jagung, gudangan, kendi berisi air sendang, dan lain-lain.
Sesaji diletakkan di dekat arca berbentuk lingga dan yoni di komplek Situs Menggung. Sesepuh kampung berdiri di luar situs dekat pohon yang diduga berusia ratusan tahun. Dia menengadahkan dua tangan dan merapal doa. Sesaji yang sudah didoakan dibagikan kepada lelaki yang berdandan menyerupai prajurit.
Mereka memeluk pincuk daun pisang berukuran sedekapan orang dewasa. Isi pincuk adalah “amunisi” dari aneka isi sesaji. Isi sesaji di dalam pincuk sudah diremas-remas. Mereka berjalan beriringan mengelilingi bagian dalam komplek Situs Menggung sembari melemparkan “amunisi”. “Hore! Hore! Hore! Hore! Hla kae wong e!” teriak mereka bersahutan sembari melemparkan sesaji di pincuk ke luar situs.
Lelaki yang usil melemparkan ke kerumunan warga di dekat situs. Mereka juga menyasar warga yang bersembunyi dengan naik ke ladang warga. Posisi ladang lebih tinggi dari situs. Sejumlah warga menghindari lemparan karena bau makanan kurang sedap.
Dua perempuan usia setengah abad, Lamiyem dan Tukiyem, menghindar dengan berdiri di jalan setapak menuju ladang warga. “Madepo mburi ndak kena rai. Kembange lebokke dompet. Iki mengko banyune diombe trus pangananne di bagi,” tutur Lamiyem kepada Tukiyem.
Mereka membawa plastik bening berisi air dan kantong plastik warna hitam. Isi platik bening adalah air sendang di dekat situs sedangkan kantong plastik hitam berisi aneka makanan sesaji. “Ambil gandik, bongko, sambel, air sendang, dan sekar [bunga mawar dan melati]. Dimasukkan ke dompet [bunga]. Berharap kesehatan,” tutur warga Nglurah RT 001/RW 010, Tukiyem.
Dia mengangsurkan gandik warna cokelat susu dan putih berukuran dua jari orang dewasa kepada Espos. “Gandik e didahar. Sami mbeta sedaya trus dahar teng lebet [di komplek situs]. Niku syarat,” ujar dia.
Tokoh masyarakat Kampung Nglurah, Wagimin, menyampaikan tidak sembarang orang memasak sesaji dan makanan kenduri. Perempuan yang memasak tidak boleh dalam kondisi haid dan harus mandi besar. Mereka tidak boleh menggunakan bahan dari beras dan ayam.
Itu alasan mengapa tumpeng terbuat dari nasi jagung. Ingkung pada sesaji dan kenduri diganti tempe bakar. Tamu yang datang mendapat suguhan gandik. Makanan dari jagung putih lokal yang direndam dan ditumbuk. “Adat sudah dipelihara sejak lama. Ibu saya 70 tahun masih membuat sesaji. Ada punar [makanan dari jagung] warna kuning dari kunir, hitam dari arang, dan merah dari gula. Tidak semua orang tahu,” ujar dia.
Makanan yang disantap saat kenduri berbeda dengan yang disiapkan untuk sesaji. Wagimin menyebut perbedaan pada warna, bentuk, dan ukuran. Makanan kenduri terdiri dari nasi jagung, panggang tempe, bongko, ares, botok. Semua makanan ditata pada wadah dari daun dan pelepah pisang. “Enggak boleh diicipi saat masak. Tetapi rasanya enak dan pas,” tutur dia sembari mengangsurkan gandik goreng warna cokelat.
Rasa gandik goreng warna cokelat manis karena nasi jagung dicampur gula jawa. Gandik goreng warna putih rasanya lebih gurih. Selain gandik goreng, Espos menjajal gandik yang tidak digoreng. Rasanya lebih sederhana dibandingkan gandik goreng. Tetapi gandik goreng lebih kriuk saat digigit.
Kepala Lingkungan Nglurah, Ismanto, menuturkan warga memelihara adat turun temurun. Harapan warga Nglurah jauh dari bahaya dan hidup sejahtera. Di sisi lain, warga Nglurah memelihara budaya nenek moyang. “Simbol melempar makanan ke luar situs membersihkan diri dan pasrah kepada Yang Kuasa. Sesaji dan kenduri wujud syukur kepada Yang Kuasa atas keberkahan yang dicapai. Ini sekaligus upaya memelihara adat turun temurun dari nenek moyang.”
Baca juga: