Imunisasi MR di Boyolali Tembus 108 Persen. Ini Kata Kepala Dinkes Boyolali…

Pemberian vaksin campak rubella di wilayah Sukoharjo, Jumat 4 Agustus 2017. | Wibowo (/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG – BOYOLALI – Capaian imunisasi measles dan rubella (MR) di Boyolali hingga saat ini mencapai 108,61 persen. Sedangkan target sasaran sebanyak 230.990 anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S. Lina, di sela rapat koordinasi di Gedung DPRD Boyolali, Rabu 11 Oktober 2017. Capaian tersebut berdasarkan data dari pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan.

Di sisi lain, Dinkes Boyolali juga memiliki data sasaran yang lebih riil sehingga capaian imunisasi lebih tinggi dari target sasaran.

”Imunisasi MR sejak Agustus dan September. Kemudian dilanjutkan sweeping di bulan Oktober ini sampai tanggal 14 Oktober besok,” papar dia.

Meski capaian sasaran melebihi target, namun masih terdapat penolakan dari orang tua anak. Setidaknya tercatat 1.229 anak dari 49 sekolah yang orang tuanya menolak diimunisasi MR. Penolakan ini merata di kabupaten atau kota di Provinsi Jateng dan sempat menjadi evaluasi dengan difasilitasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Di Boyolali sendiri, mayoritas penolakan terjadi di wilayah Kecamatan Sambi, Simo, dan Mojosongo, serta sedikit lainnya di sejumlah kecamatan lain. Faktor penolakan lanjut Lina, lebih pada faktor kepercayaan atau keyakinan yang dianut.

Berkaitan ini, Lina menegaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, termasuk melibatkan banyak peneliti yang menjamin proses imunisasi benar-benar aman dan halal. Selain itu juga fakta bahwa vaksin MR juga digunakan di negara-negara Islam lainnya.

”Kami juga gencar melakukan sosialisasi dengan menggandeng MUI, pemangku kepentingan seperti DPRD. Bahkan kami juga sudah mengundang orang tua untuk sosialisasi dengan narasumber dari Kemenkes, MUI, serta Dinkes. Hanya saja kenyataannya itu belum bisa merubah pendirian mereka,” katanya.


Kondisi ini menjadi kekhawatiran jika menjadi kecenderungan terus berkembang akan menghambat upaya mengatasi penyakit menular. Padahal imunisasi MR tersebut merupakan salah satu dari upaya pencegahan terhadap sembilan jenis penyakit melalui imunisasi, di antaranya yakni polio, difteri, tetanus, hepatitis, TBC, dan meningitis.

Imunisasi gratis ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah yang tidak kurang dalam upaya menyehatkan masyarakat. Jika imunisasi dilakukan secara mandiri, setidaknya masyarakat harus merogoh kocek hingga Rp 400 ribu untuk imunisasi MR. Di sisi lain, secara teori untuk menekan potensi resistensi maka harus dengan memaksimalkan capaian imunisasi.