FOKUS JATENG – SOLO – Pemkab Karanganyar berkomitmen mengembangkan beras yang bermutu, aman dikonsumsi, dan dibudidayakan tanpa merusak lingkungan. Selain itu, dalam pengembangannya dengan masukan bahan-bahan lokal.
Hal ini diungkapkan Sekda Karanganyar Drs. Samsi, M.Si saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa dan dosen Fakultas Pertanian UNS, Rabu 8 November 2017 di aula FP UNS.
Dikatakan, Karanganyar merupakan kabupaten agraris. Yakni penyumbang beras di Jawa Tengah dan nasional. ”Tahun 2015 Karanganyar Surplus beras 122.645 ton,” papar dia.
Sebagai komitmen Pemkab Karanganyar dalam pengembangan kawasan pengembangan beras organik, maka dibentuk ”Kawasan Pengembangan Beras Organik Lereng lawu Kabupaten Karanganyar”.
”Lokasi desa tersebut didorong untuk mengembangkan pertanian beras organik yang masih konvensional menuju peralihan, peralihan menuju pertanian organik dan siap disertifikasi,” ujarnya. Lokasi tersebut terdiri lima kecamatan, yakni Kecamatan Matesih, Karangpandan, Kerjo, Jenawi, dan Mojogedang.
Keuntungan yang diperoleh dengan pertanian beras organic, yakni meningkatnya produkstivitas dan produksi. Kemudian tanah menjadi subur, mudah dan murahnya sarana produksi. Selain itu, tanaman akan lebih tahan terhadap penyakit dan pendapatan petani akan meningkat.
Sejak tahun 2010 di Kabupaten Karanganyar telah melahirkan 8 kelompok tani yang telah mengantongi sertifikat nasional SNI kategori pertanian organik. ”Pengembangan Kawasan Pertanian Beras Organik yang memanfaatkan input lokal sangat berkaitan dalam membangun desa mandiri, yaitu desa mandiri pangan, mandiri ekonomi dan mandiri energi (dari biogas),” jelas Samsi.
Kuliah umum digagas oleh Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP). Mengangkat tema ”Masalah dan Tantangan Dalam Membangun Desa Secara Partisipatif”. Hadir sebagai narasumber yang lain adalah Siti Mulyani, S.Sos, M.Si.