Psikolog Dwi Novita: Perempuan Harus Mandiri Tegak, Tidak Ketergantungan dengan Siapa pun!

Peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan di Sambirejo, Sragen, Rabu 6 Desember 2017. (Huriyanto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG – SRAGEN – Para perempuan di Kabupaten Sragen memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap prempuan sedunia. Acara tersebut mengambil tema ”Membangun dan Menggalang Kekuatan untuk Menghapus dan Mendobrak Belenggu Kekerasan terhadap Perempuan”. Kegiatan yang digelar di Rumah Makan Pawon Bata Jalan Sambirejo (Jl. Sragen-Balong Km 11 Sragen) Rabu 6 Desember 2017 ini dihadiri puluhan perempuan.

Peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia ini diadakan setiap tahun dari tanggal 25 November hingga 10 Desember. Nah, kemarin diadakan dialog interatif antara korban kekerasan berbasis gender, kader Aliasan Peduli Perempuan Sukowati (APPS) dan masyarakat.

”Kami mengundang narasumber Ibu Dwi Novita seorang psikolog. Hari Minggu dilanjut aksi damai di care free day. Kita akan tanda tangan di atas kain putih dan bagi bunga,” jelas Koordinator APPS Sugiyarsi kepada fokusjateng.com di sela kegiatan.

Dijelaskan, tahun 1991 ada tiga perempuan bersaudara meninggal terbunuh oleh pemerintah pada tahun itu. Pada tahun 1993 ada pertemuan aktivis prempuan sedunia di mendekrasikan hari anti kekerasan sedunia. ”Tadi ada dua korban yang menceritakan kekerasan, kesedihan yang dialaminya yang berasal dari beberapa wilayah di Kabupaten Sragen. Akhirnya saat ini mereka bangkit dengan didampingi APPS,,” papar dia.

Dwi Novita, pembicara pada acara itu mengimbau kepada seluruh perempuan agar menjadi kuat. Perempuan yang mampu untuk mandiri dan tidak ketergantungan kepada siapa pun dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga maupun persoalan kehidupan. Perempuan wajib berdiri tegar membesarkan anak-anak mereka.

”Anak-anak adalah generasi muda dan jangan patah semangat dengan permasalahan yang sedang dihadapi,” tegasnya. Dengan 16 hari anti kekerasan ini, lanjuta dia, perempuan itu bukan harus menjadi koncowingking, bukan sebagai yang dikasihani tapi saat ini harus diposisikan di depan dan harus bisa mengambil keputusan.