FOKUS JATENG-BOYOLALI-Harga beras di pasaran hingga saat ini masih menggantung di atas. Namun kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib yang dialami para petani di wilayah Banyudono, Boyolali. Mereka mengeluh lantaran harga tebasan padi anjlok.
Hal itu dikarenakan kualitas panen merosot tajam. Biasanya bisa laku Rp 6 juta sampai Rp 8 juta per petak, kini hanya sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per petak. “Memang, mayoritas petani di Desa Jembungan memilih menjual langsung hasil panen di sawah dengan sistem tebasan,” ujar Ismadi (48), salah seorang petani penggarap Senin 19 Februari 2018.
Sabar (54), petani lain mengungkapkan, dampak anjloknya harga tebasan padi praktis mengurangi pendapatan petani. Pasalnya, biaya tanam dan mengolah tanah tidak bisa dikurangi. Belum lagi biaya pengadaan pupuk dan pestisida.
“Ya, kalau sawah milik sendiri, petani tak begitu risau. Tetapi kalau tanah menyewa atau petani penggarap, sangat terasa,” katanya.
Sayangnya, meskipun harga tebasan padi jatuh, harga beras di pasaran tetap tinggi. Para petani pun kini sebagian memilih membawa pulang sebagian hasil panen. Sehingga, mereka bisa menghemat pengeluaran uang untuk membeli beras. “Saya juga membawa pulang sebagian hasil panen agar tidak perlu membeli beras,” tutur dia.
Pono (62), salah satu penebas mengakui, harga tebasan padi di sawah belakangan ini lebih murah dibandingkan sebelumnya. Hal ini semata karena musim hujan yang berdampak merosotnya kualitas hasil panen. “Kualitas padi hasil panen pada musim hujan biasanya kurang bagus. Gabahnya kurang bernas,” katanya.
Selain itu, penebas juga mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengeringkan gabah. Jika pada musim kemarau, pengeringan gabah bisa dilakukan dua hari, maka pada musim hujan bisa empat hingga enam hari.