FOKUS JATENG-BOYOLALI-Warga di lereng Gunung Merapi, tepatnya Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Boyolali, mulai mengajukan droping air bersih ke pemkab setempat, Kamis 19 Juli 2018. Pengajuan air bersih ini lantaran dampak musim kemarau yang mulai terasa akhir-akhir ini.
Camat Musuk Dwi Sundarto mengatakan, pengajuan pengiriman air bersih ini baru satu desa, yaitu Desa Sangup. Permintaan bantuan langsung disampaikan ke Bagian Kesra Setda Boyolali untuk ditindaklanjuti. “Kalau sudah terkirim ke desa diharapkan bisa meringankan beban warga,” harapnya.
Sebagian kawasan Musuk memang rawan air bersih. Masyarakat hanya mengandalkan pada air hujan yang ditampung di bak- bak penampungan. Sebagian lagi mendapatkan air dari sumber air terdekat.
Sementara itu, Widodo (57) warga Desa Sruni, Kecamatan Musuk mengaku, sudah mulai merasakan dampak kekurangan air bersih sejak akhir Juli lalu atau setelah lebaran. Bak- bak penampungan air hujan yang ada sudah mengering.
“Mayoritas warga mengandalkan air dari bak penampungan air hujan. Setiap rumah memiliki bak yang bisa menampung air minimal 6.000 liter,” tuturnya.
Kini, warga pun terpaksa membeli air bersih dari penjual air keliling. Satu tangki air bersih kapasitas 6.000 liter harganya kini mencapai Rp 110.000. Air tersebut hanya cukup untuk kebutuhan selama dua minggu.
“Tapi kalau memiliki sapi cukup banyak, ya paling hanya cukup untuk seminggu saja,” kata dia.