DISKUSI WONOGIRI CREATIVE FESTIVAL: Harga “Konco” Merapuhkan Pebisnis Pemula

Wonogiri Creative Festival yang digelar Sabtu 25 Agustus 2018 hingga Minggu 26 Agustus 2018. (Premana/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG – WONOGIRI Para pebisnis pemula yang mayoritas pelakunya para remaja, kerap dihadapkan pada sebuah dilema. Hal ini mencuat dalam diskusi Wonogiri Creative Festival (WCF), yang berlangsung di GOR Giri Mandala Sabtu malam 25 Agustus 2018.

“Kita merasa gembira ketika relasi dan teman-teman pada datang di kedai yang kita buka. Namun di sisi lain kita juga dibuat repot.  Sebab, kalau kita beri harga standar, tentu mereka menganggap kita tidak bisa membedakan teman atau bukan. Tapi kalau kita beri harga ‘konco’ akan merapuhkan kelangsungan bisnis yang baru kita bangun. Mohon solusinya dalam menghadapi hal seperti itu,” tanya salah seorang peserta diskusi.

Kegiatan yang diajangi para pemuda tersebut, menyuguhkan 33 stand industri kreatif yang dipadu dengan Talkshow interaktif dengan tema “Membangun Iklim Berwirausaha melalui Trend Kreativitas Milenial.” Yang diundang menjadi pembicara talkshow interaktif  diantaranya Farid Stevy (Seniman, Creative Preneur), Muchus Budi Rahayu (Pengamat Literasi Digital dari detik.com), dan Verawati Joko Sutopo (Women Preneur).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Verawati Joko Sutopo, memberi resep bahwa pebisnis harus mempunyai ketegasan, mana yang harus diberi harga khusus, mana yang diberi harga umum. “Sudah 16 tahun saya menekuni bisnis dan peternakan. Dalam melakukan usaha, kita harus dapat memilah, mana yang mesti kita beri harga ‘konco’ mana yang harga umum. Kalau di tempat saya, ada dua orang yang saya beri harga khusus, karena mereka memang membantu saya sejak masih merintis usaha. Selanjutnya, ada yang saya masukkan ke lingkaran kedua karena mereka juga memberi kontribusi besar terhadap kelangsungan bisnis yang saya jalani, dan seterusnya. Jadi ada klasifikasi seperti itu,” ungkapnya.

Farid Stevy, juga mempunyai resep tersendiri ketika menghadapi teman baiknya. “Menghadapi teman sendiri memang kadang dihadapkan hal seperti itu. Dulu saya kerap tidak dibayar karena teman baik. Akhirnya ya saya kerepotan juga, dan seiring perkembangan waktu selanjutnya saya jawab, kalau memang menganggap teman mestinya tidak menawar atas harga yang saya berikan,” katanya sambil sedikit guyon.

Tak hanya itu, Farid juga memberikan solusi, untuk menghindari harga ‘konco’ bisa menggunakan cara barter.

“Pernah saya diminta membuatkan logo teman yang mau buka usaha laundry. Ya akhirnya kita sepakati, saya buatkan logo tapi saya laundry sekian kali tidak membayar,” jelasnya.

Sementara, Budi Wahyu, ketua penyelenggara kegiatan tersebut menjelaskan bahwa Wonogiri Creative Festival merupakan suatu event yang diharapkan mampu membangkitkan iklim kreatif di Kabupaten Wonogiri.

“Konsep acara Wonogiri Creative Festival ini sendiri yaitu mengadakan sebuah festival kreatif di Wonogiri sebagai platform insan kreatif di Kabupaten Wonogiri sekaligus tempat untuk bertukar ilmu dan pengalaman tentang industri kreatif bagi para pemuda, pebisnis industri kreatif, penggiat kreatif, dan para seniman yang menjadikan kreatifitas sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi diri,” jelasnya.