Hadapi Bencana Erupsi Merapi, BPBD Boyolali Jalin MoU dengan Kabupaten Magelang

Petugas Pos Pemantauan Gunung Merapi melakukan pemantauan di Pos Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Senin 7 Januari 2019. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Langkah antisipasi terus dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. Yakni mempersiapkan skema evakuasi untuk antisipasi dampak bencana Merapi.

Salah satunya dengan menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kabupaten Magelang yang menjadi lokasi pengungsian warga Desa Klakah dan Desa Tlogolele, Kecamatan Selo.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Boyolali Bambang Sinungharjo mengatakan, proses evakuasi bilamana diperlukan, lokasi evakuasi untuk dua desa di Kecamatan Selo ada di wilayah Kabupaten Magelang. Yakni Desa Klakah ke Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, dan Desa Tlogolele ke Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan.

Meski berbeda wilayah administrasi, lokasi evakuasi tersebut dipilih sebab aksesnya lebih mudah dicapai. “Untuk Desa Klakah dan Desa Gantang sudah ada MoU. Sementara MoU untuk Desa Tlogolele dan Desa Mertoyudan masih dalam proses, dimana jumlah penduduk yang perlu dievakuasi bila aktivitas Merapi meningkat sebanyak 4000an jiwa,” terangnya Senin 7 Januari 2019.

Skema evakuasi dua desa tersebut, lanjutnya, yakni pengungsi akan tinggal di rumah-rumah warga yang memang sudah dipersiapkan. Konsep tersebut mengadopsi konsep sister village, dimana sebanyak 17 desa di Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk yang masuk kawasan risiko bencana (KRB) II dan III menjalin kerja sama dengan desa lain di wilayah yang aman untuk lokasi evakuasi.

Meski di wilayah Magelang, namun bila evakuasi dilakukan, suplai logistik masih menjadi tanggung jawab Pemkab Boyolali.

Begitupun dengan proses evakuasi, BPBD Boyolali terus melakukan simulasi dan pengkondisian masyarakat serta petugas bila terjadi bencana. Simulasi meliputi kesiapan jalur evakuasi, dapur umum, komunikasi, hingga penanganan kesehatan. Sejak beberapa tahun terakhir, simulasi dilakukan tiga kali dalam setahun. Masyarakat setempat pun sudah dilatih untuk siap bila harus melakukan evakuasi.

“Misal dalam letusan freatik pada Mei lalu, masyarakat yang mempunyai kendaraan roda empat sudah terkondisi memarkirkan mobilnya dalam kondisi dan lokasi yang memudahkan untuk secepatnya menuju jalur evakuasi,”

Di sisi lain, menyusul hujan abu tipis yang melanda beberapa desa di Kecamatan Musuk pada Sabtu lalu, hal tersebut belum mempengaruhi kondisi masyarakat setempat. Dari rapat koordinasi dengan pemerintah kabupaten wilayah terdampak lainnya, pembagian masker pun belum diperlukan. Sebab abunya hanya tipis saja dengan durasi hujan abu tak ada satu menit.

“Stok masker di tempat kami masih sekitar 6.500 lembar dan nanti akan ditambah oleh provinsi sebanyak 10 ribu hingga 15 ribu lembar. saat letusan freatik lalu, kami mendistribusikan sebanyak 20 ribu lembar masker,” jelasnya.