Operator Mesin Bajak Sawah dan Perontok Padi Protes SPBU Karangduren Sawit Boyolali

Operator bajak sawah dan perontok padi demo SPBU Karangduren, Sawit, Boyolali, Senin 28 Januari 2019. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Operator mesin pembajak sawah dan perontok padi menggelar aksi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) Karangduren, Kecamatan Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Senin 28 Januari 2019. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapat solar sebagai bahan bakar operasional mesin di lapangan.

Dalam aksinya, warga Desa Karangduren ini membawa mesin traktor dan perontok padi. Mereka minta kejelasan kepada manajemen SPBU karena hampir sepekan tak bisa bekerja. “Sekarang musimnya pembajakan sawah dan sebentar lagi ditanami padi,” kata Warjio (58), salah satu penyedia jasa pembajak sawah.

Para penyedia mesin pembajak sawah ini paling tidak menghabiskan 8-9 liter solar per hari. Namun sejak beberapa waktu lalu, dia berusaha membeli solar di SPBU ini namun tak dilayani.

Petugas pengisian BBM menyatakan tak bisa menerima pembelian solar dari para pembajak sawah dalam jumlah berapapun. “Kemarin (beberapa hari lalu) saya jam 1 malam beli solar 100 ribu tidak boleh, 50 ribu juga tidak boleh, bahkan 30 ribu saja itu lho saya tidak boleh,” beber dia.

Tak mendapatkan solar tersebut kemudian berbuntut panjang. Pemilik atau petani penggarap yang sudah menebar benih terpaksa tak bisa ditanam, karena lahan belum siap. Akibatnya beberapa sawah yang siap tanam harus mundur beberapa hari.

“Saya banyak mengembalikan (membatalkan ) untuk membajak sawah petani,” timpalnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karangduren Hariyanto mengaku sempat terjadi kesalahpahaman antara pembajak sawah dengan petugas SPBU. Pembajak sawah yang ingin membeli solar wajib membawa surat pengantar dari desa tetap saja tak dilayani.

“Katanya, ada audit dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kalau saya audit BPK pun, kalau ada surat itu sudah legal formal. BPK-pun saya kira tidak masalah,” terangnya. Apalagi, pera penyedia jasa ini paling banyak membeli solar sebanyak 5-10 liter.

Pihaknya bersama para pembajak kemudian melakukan lobi agar bisa kembali beli solar di SPBU ini. “Ya Alhamdulillah sudah boleh lagi,” tutur dia.

Sementara itu, Pengawas SPBU Romadhon mengatakan tak dilayaninya pembelian solar untuk pembajak sawah ini dikarenakan masih ada pemeriksaan dari BPK RI. Untuk itu, selama pemeriksaan tersebut, pihaknya tak berani memberikan BBM kepada para pembajak dan perontok padi.

Namun setelah adanya aksi ini yang kemudian bermusyawarah dengan pimpinan, diputuskan SPBU bisa melayani pembelian solar ini dengan syarakat ada surat rekomendasi dari pihak Desa atau Kelurahan. “Maksimal 40 liter perhari untuk pembajak sawah dan perontok padi,” terangnya.