FOKUS JATENG-BOYOLALI-Akses warga Desa Repaking dan Desa Bantal, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, kembali terbuka Rabu 6 Februari 2019. Hal ini berkat warga dan Koramil Wonosegoro yang membangun jembatan darurat di atas jembatan permanen yang putus akibat terjangan banjir beberapa hari yang lalu.
Mereka pun bergotong royong menebang puluhan batang bambu. Selanjutnya, batang bambu yang besar digunakan untuk gelagar jembatan darurat. Mereka juga membelah bambu lainnya untuk alas atau dasar jembatan.
Alas tersebut dianyam dan kemudian dipasang diatas gelagar. Agar kuat, alas tersebut dipaku dan ditali menggunakan kawat. Mereka bekerja gotong rotong dab dibantu Babinsa Koramil Wonosegoro Agus Widodo. “Dengan jembatan darurat ini minimal warga bisa beraktivitas,” katanya.
Seperti diketahui, jembatan itu merupakan jalur perekonomian warga setempat. Jembatan yang melintang Sungai Bancak menjadi penghubung Desa Repaking dan Desa Bantal. Juga sering digunakan warga karena merupakan jalur terdekat menuju Kota Salatiga.
Danramil Wonosegoro, Iswadi Yusuf menambahkan, pihaknya senantiasa mendukung upaya warga untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Seperti membangun jembatan darurat di atas Jembatan Repaking yang putus beberapa hari lalu. “Jembatan darurat ini minimal bisa dilalui pengendara sepeda motor dan pejalan kaki,” kata dia.
Seperti diberitakan, Pemkab Boyolali berkomitmen segera memperbaiki jembatan rusak di Desa Repaking dan Desa Bandung, Kecamatan Wonosegoro tahun 2019 ini. Kedua jembatan tersebut dihantam banjir, Jumat Februari 2019.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Boyolali, Arief Gunarto memastikan bahwa jembatan yang menghubungkan dengan wilayah Kota Salatiga ini Repaking akan dibangun tahun ini. Dipekrirakan, pembangunan jembatan membutuhkan dana Rp 2,5 miliar.