FOKUS JATENG-BOYOLALI-Memasuki musim kemarau, sebagian petani pepaya di wilayah Boyolali merasa was- was. Mereka khwatir tanaman akan diserang hama kutu putih.
Selama ini, sentra tanaman pepaya di Boyolali tersebar di wilayah Kecamatan Musuk, Cepogo, sebagian Ampel, Boyolali Kota, Mojosongo dan Kecamatan Teras. Namun, terbesar di Mojosongo dimana di sana juga terdapat sejumlah warga pembudidaya bebit pepaya.
Varietas terbanyak adalah Mj9 atau yang biasa disebut warga dengan varietas thailand. Buah lebih kesat dan rasanya manis. Namun, kini sebagian petani mulai membudidayakan pepaya varietas kalina yang buahnya lebih kecil.
“Sudah banyak yang menanam pepaya kalina ini. Buahnya lebih kecil sehingga lebih praktis dibawa, juga sudah mulai diterima di pasar swalayan,” ujar Parto (51) petani pepaya di Kecamatan Teras.
Namun, memasuki musim kemarau ini, dia dan petani lain merasa was- was. Pasalnya, hama kutu putih biasa menyerang pada musim kemarau. Hama menyerang daun, batang dan buah pepaya. Dampaknya, buah pepaya tidak berasa manis.
“Lebih fatal, tanaman bisa mati jika terlambat mengobati.”
Dia sempat merasakan pahitnya dampak serangan hama sekitar tiga tahun lalu. Puluhan tanaman pepaya mati dan lainnya rusak karena diserang hama kutu putih. Upaya pengobatan dengan penyemprotan pestisida tidak maksimal.
“Kalau penyemprotan dengan pestisida terlambat, bakal sulit memberantasnya.”
Petani lain, Ahmad (59) di Kemiri, Kecamatan Mojosongo mengaku sudah siap menghadapi hama kutu putih. Hama tersebut biasa menyerang tanaman setiap musim kemarau. Hama akan hilang sendirinya saat hujan mulai turun.
“Namun kalau serangan hama ini dibiarkan, akibatnya bisa fatal.”
Dia bisa menyemprot tanaman sebelum hama merebak. Penyemprotan menggunakan pestisida yang bisa dijual di toko pertanian. Namun, pestisida dicampur juga dengan deterjen. “Yang penting, rajin mengecek tanaman. Saat hama mulai muncul, langsung disemprot dengan pestisida diampur deterjen.”
Diungkapkan, penjualan hasil panen pepaya saat ini tidak masalah. Dia mampu panen setiap tiga hari sekali. Hasil penan dijual kepada pengepul atau dibawa langsung ke pasar. “Lumayan, buah pepaya bisa laku Rp 5.000- Rp 7.000/ buah tergantung besar kecilnya buah. Ini harga di tingkat pengepul.”