FOKUSJATENG – BOYOLALI – Tanaman cabai mengering sebelum sempat dipanen. Begitulah yang dialami petani cabai di Desa Sangup, Kecamatan Taman sari Boyolali.
Kondisi ini membuat para petani cabai di desa tersebut mengalami kerugian karena tanaman cabai mengering sebelum sempat di panen. Selain dampak kemarau panjang, lahan pertanian di wilayah Sangup hanya bisa ditanami cabai dan tembakau.
Salah seorang petani cabai di Desa Sangup, Janto mengatakan, kemarau sejak awal Juni 2019 membuat dirinya kesulitan mendapatkan air untuk irigasi. Karena ladang di wilayahnya selama ini mengandalkan air hujan. Akibatnya, tanaman cabai miliknya mengering. Tanaman cabai yang mulai berbuah pun nampak layu sehingga tak bisa dipanen. Kondisi tersebut, Janto terpaksa membiarkan tanaman cabai yang mengering di lahan miliknya.
“Biasanya lahan saya 1000 meter persegi kalau panen menghasilkan puluhan kilogram cabai. Ini karena kering tak bisa dipanen, padahal harga perkilonya sampai Rp 40 ribu di tingkat petani,” katanya, Jumat (30/8/2019).
Akibat kekeringan ini, Janto mengaku hanya dapat memanen tidak lebih dari 25kilogram. Namun demikian kondisi cabai itu tidak bagus, harga jualnya pun jauh dari yang dia harapkan.
Petani Desa Sangup lainnya, Sutarto (56) mengaku jika tidak kesulitan air, rata-rata setiap bidang atau sekitar 250 m2 lahan miliknya mampu menghasilkan sedikitnya 40 kg cabai sekali pemetikan. Itupun bisa dilakukan sampai tujuh kali pemetikan (panen).
“Sekarang maksimal dua kali panen sudah tak laku dijual. Oleh sebab itu kami sengaja membiarkan cabai di pohonnya, karena kering hingga bercabuk sehingga tidak laku,” terangnya.
Akibat gagal panen, Sutarto mengalami kerugian Rp 4 juta untuk tiga bidang lahan cabai atau sekitar 750 m2 yang dia garap. Kerugian itu akibat biaya tanam dan perawatan yang selama ini dia keluarkan.
Kondisi ini hanya membuat dia gigit jari melihat tiga bidang tanaman cabai rawit miliknya tak bisa dipanen. Terlebih lagi saat ini harga cabai rawit di pasar-pasar Boyolali menembus angka Rp 70 ribu/Kg.
“Mau bagaimana lagi, kami tak bisa berbuat apa-apa. Karena tanaman cabai sangat membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup,” tandasnya.
Dia menambahkan, sejak erupsi Merapi 2010 lalu, lahan pertanian di kawasan sangup hanya dapat ditanami tembakau dan cabai, petani selalu gagal panen jika bercocok tanam jenis tanaman lain seperti singkong dan jagung atau tomat yang dinilainya cukup tahan dengan minim air.
“Petani malah rugi, selain di serang cabuk putih. Banyaknya kera selalu menghabiskan tanaman,” pungkas Janto.