FOKUS JATENG-BOYOLALI-Warga di lereng Gunung Merapi Boyolali tetap beraktivitas normal seperti biasanya. Meski terjadi guguran lava di puncak Gunung Merapi pada Senin sore, belum mempengaruhi aktivitas warga di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali.
Dukuh Stabelan merupakan dukuh paling atas dan masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi di Boyolali. Dukuh ini hanya berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi. Warga disana tetap bercocok tanam sayuran dan tembakau sebagai pekerjaan setiap harinya. Sebagian mencari rumput untuk pakan ternaknya maupun yang ke sekolah.
“Warga disini masih kegiatan biasa,” kata Suginu, warga Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele.
Petani lainnya, Muji mengaku bahwa warga dilereng Gunung Merapi ini memiliki kepercayaan, jika Merapi meletus akan ada tanda-tanda seperti kilat. “Warga masih biasa-biasa saja, tetap beraktivitas biasa. Kalau (Merapi) mau meletus ada tanda-tandanya,” katanya.
Kendati demikian kalau malam, warga selalu siaga diluar rumah dengan membuat api unggun bersama. “Pembuatan api unggun ini sudah menjadi kebiasaan warga Stabelan, setiap kali ada tanda-tanda Erupsi Merapi,” ujar Kepala Dusun (Kadus) Stabelan, Maryanto.
Api unggun itu tetap menyala hingga dini hari, langkah tersebut lanjut Maryanto merupakan bentuk kesiap-siagaan warga. Warga yang berjaga diluar rumah langsung mengetahui jika ada Erupsi yang membahayakan warga Dukuh Stabelan. Mereka langsung memberitahu warga lain untuk bersama-sama melakukan evakuasi mandiri.
“Seluruh kendaraan warga, baik mobil pribadi, Pikap, Truk maupun sepeda motor semuanya sudah menghadap kejalan. Jika terjadi erupsi yang mengancam warga Stabelan langsung bisa melakukan evakuasi,” ujarnya.
Sementara terpisah Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalakhar) BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo, mengakan pihaknya akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana gunung Merapi. Khususnya masyarakat di wilayah KRB III.
Dijelaskan Bambang, di Kabupaten Boyolali, wilayah yang masih KRB III bencana erupsi Gunung Merapi yaitu sebagian di wilayah Desa Tlogolele, Desa Klakah dan Jrakah. “Yang paling tinggi Dukuh Stabelan (Desa Tlogolele),” jelasnya.
Namun sejak setahun lalu BPBD Boyolali sudah membentuk Desa bersaudara (Sister Village). Apabila terjadi Erupsi, warga langsung melakukan pengungsian ke Desa yang menjadi saudaranya. Tak hanya itu saja, hewan ternak warga juga akan dievakuasi juga. Hewan-hewan ternak warga akan ditampung di lokasi yang telah ditentukan.
“Bisa dilapangan desa, atau di pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo,”pungkasnya.