FOKUS JATENG-BOYOLALI-Ratusan warga mengikuti tradisi sadranan, di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Minggu (10/11). Selain untuk mendoakan para leluhur dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sadranan kali ini juga memperingati Hari Pahlawan.
Dengan menggunakan tenong maupun tempat makan lainnya yang berisi berbagai makanan, warga datang ke pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni. Mereka berasal dari sejumlah dukuh di Desa Sruni dan sekitarnya, antara lain dari Dukuh Mlambong, Gedongsari, Rejosari, Magersari, Tegalsari dan Wonodadi. Serta dari daerah lain yang memiliki leluhur yang dimakamkan di TPU tersebut.
Salah seorang tokoh masyarakat, Zaini, mengatakan tradisi sadranan kali ini selain untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, juga bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, 10 November.
“Maka selain untuk mendoakan para leluhur juga untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semoga mereka diampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT,” kata Zaini, dalam tradisi sadranan tersebut.
Tradisi sadranan juga untuk mengingatkan kita kepada para leluhur yang telah meninggal dunia. Dengan ingat kepada para leluhur juga diharapkan semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Acara diawali dengan kegiatan bubak atau bersih-bersih makam, yang telah dilakukan sehari sebelumnya atau Sabtu (9/11) pagi. Kemudian Minggu kemarin dilaksanakan tradisi tinggalan nenek moyang tersebut.
Dalam tradisi ini diawali dengan pembacaan dzikir tahlil. Setelah doa bersama, kemudian makanan yang dibawa dan dimasukkan tenong itu dimakan bersama-sama. Mereka juga saling tukar makanan.
Sementara itu sesepuh warga setempat dan juga Ketua RW 04 Desa Sruni, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi sadranan di bulan Mulud (penanggalan Jawa) itu sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang. “Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang, yang terus dilestarikan,” kata Hadi Sutarno, disela-sela acara.
Tujuannya antara lain untuk mendoakan kepada para leluhur dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang layak disisi Tuhan. Selain itu juga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rejeki yang telah dilimpahkan.
Sadranan dilaksanakan setiap bulan Mulud (penanggalan jawa), sehingga oleh warga biasa disebut Muludan. Selain itu juga dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, tradisi sadranan berlangsung dua kali dalam setiap tahun. Selain di bulan Mulud, juga dilaksanakan di bulan Ruwah.