FOKUS JATENG-BOYOLALI-Umbul Asem yang terletak di objek wisata Umbul Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali Kota, tampak berbeda dari hari biasanya Sabtu 30 November 2019. Sebab, tengah berlangsung kegiatan yang cukup unik. Yakni Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-1 Komunitas “Boyolali Slulum Ngudi Waras”.
Untuk merayakan hari ulang tahun yang pertama, anggota komunitas yang sudah mencapai 250 orang ini menggelar kegiatan di Objek Wisata Umbul Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali Kota, Sabtu 30 November 2019.

Kepala Desa Kebonbimo Sudadi mengapresiasi kegiatan komunitas Slulum Ngudi Waras di objek wisata Umbul Tlatar. (credit-Yulianto/Fokusjateng.com)
Berbagai agenda mewarnai kegiatan tersebut. Yakni potong rambut gratis, terapi kesehatan gratis, live musik anggota Slulum, dan bancaan ingkung ayam. Dari rangkaian kegiatan ini juga diwarnai tradisi unik, yakni melepas dua ekor menthok warna putih di umbul Tlatar.
Dua ekor menthok warna putih ini dilepas di Umbul Asem. Kemudian oleh anggota komunitas digiring ke pintu air agar bisa bebas keluar ke aliran sungai. Tradisi ini menggambarkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahasa Esa dan umbul Tlatar tetap terus memberikan kehidupan bagi masyarakat luas.

Anggota komunitas Slulum Ngudi Waras makan bareng di sela aktivitas di Umbul Tlatar. (credit-Yulianto/Fokusjateng.com)
Awal mula komunitas ini muncul, ketika itu ada salah satu warga yang saudaranya tengah dirundung sakit rematik. Sudah berobat ke berbagai dokter dan rumah sakit, sakitnya tidak kunjung sembuh. Lantas penderita sakit rematik ini diajak kungkum atau slulum di umbul Tlatar.
“Terapinya itu antara pukul 03.30 WIB sampai pukul 09.00 WIB. Setelah slulum ini, si penderita rematik sudah ada perubahan dan akhirnya sembuh. Makanya warga membikin sebuah komunitas yang dinamakan Slulum Ngudi Waras,” kata Kepala Desa Kebonbimo Sudadi.
Lama kelamaan, komunitas ini menjadi besar dan anggota mencapai ratusan orang. Anggota komunitas ini terus menjalin komunikasi dan saling memberikan informasi. Maka untuk memperingati hari ulang tahun ke pertama, pengurus komunitas minta ijin kepada Pemerintah Desa Kebonbimo menggelar syukuran di Umbul Tlatar.
Anggotanya tidak hanya dari warga Desa Kebonbimo, tapi juga dari luar daerah. Misalnya Desa Mudal, kemudian dari luar kabupaten juga ada, yakni wilayah Pager, Kabupaten Semarang dan daerah lainnya. “Semangat komunitas ini sangat luar biasa. Saling memberi suport. Paseduluran selawase, semoga rukun, kompak selalu dan sehat,” papar dia.
Memperingati hari ulang tahun yang sederhana ini, anggota komunitas Slulum Ngudi Waras ini memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya selama ini. Yakni dibuktikan dengan potong tumpeng dengan aneka masakan olahan. “Ini nanti akan diadakan setiap tahun,” ujar kepala desa.
Kenapa diadakan setiap tahun? Karena sebagai bentuk warna budaya lokal desa. Selain itu di Desa Kebonbimo juga ada budaya lain yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya bersih desa setiap tahun digelar dengan menghelat wayang kulit semalam suntuk.
“Sebelum wayangan digelar tumpengan atau kondangan. Jadi kegiatan-kegiatan semacam ini bisa mengangkat budaya lokal,” terangnya.
Untuk ke depannya, Pemerintah Desa Kebonbimo akan mengadakan event yang lebih besar. Yakni mengangkat budaya lokal berupa kirab budaya yang melibatkan seluruh masyarakat desa.