Usai Hujan Deras, Jembatan Pusung Kelurahan Banaran Boyolali Kota Ambrol

Jembatan Pusung, Kelurahan Banaran, Boyolali Kota, ambrol Senin 24 Februari 2020. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Diguyur hujan deras yang terjadi sejak sore hingga pagi hari, jembatan penghubung dua dukuh antara dukuh pusung dengan Surodadi di Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota ambrol.
Kendati tidak ada korban jiwa, kejadian pada Senin (24/2/2020) sekira pukul 06.15 itu cukup mengagetkan warga sekitar.

“Saya baru saja bangun tidur, tiba tiba terdengar suara gemuruh dari sungai samping rumah, ketika saya tengok jembatan itu ternyata sudah runtuh,” kata Nur Muhammad Apriyanto (32) warga setempat.

Spontan Nur dan sejumlah warga lain langsung melaporkan kejadian itu ke kecamatan setempat. Adapun informasi dari Dinas Pekerjaan Umum – Penataan Ruang (DPU-PR) Boyolali menyebut, jembatan dibangun tahun 2019 lalu dan saat ini masih dalam masa pemeliharaan oleh pihak rekanan.

Runtuhnya jembatan dikarenakan salah satu ujung gelagar jembatan runtuh dan jatuh ke dasar sungai. “Pondasi penyangga jembatan, ada patah disana,” jelas Kepala DPU-PR Boyolali, Arief Gunarto, Senin (24/2/2020).

Dijelaskan, pada hari Selasa lalu pihaknya sudah menemukan ada retakan pada abutment jembatan. Kondisi tersebut sudah disampaikan kepada pihak rekanan agar segera diperbaiki dengan menutup retakan itu.

“Kemudian dalam dua hari belakangan ini kan cuaca seperti ini (curah hujan sangat tinggi). Analisa kami, kemungkinan air masuk dari retakan itu. Air masuk kemudian sampai dengan tanah jenuh air, itu menyebabkan tekanan dan itu mendorong abutment, sehingga tadi pagi terjadi keruntuhan. Abutment harusnya kedap air,” ujarnya.

“Itu awalnya dari sayap sebelah timur sisi selatan,” imbuh dia.

Runtuhnya gelagar dan plat jembatan tersebut, lanjut Arief, kemungkinan terjadi secara pelan-pelan dan tidak langsung patah. Hal itu karena gelagar dan plat jembatan masih dalam kondisi utuh. “Kedepan, gelagar itu masih bisa dimanfaatkan lagi dengan metode pelaksanaan tertentu,” ujarnya.

Diungkapkan Arief, jembatan tersebut dibangun tahun 2019 lalu dengan anggaran sebesar Rp 1,265 miliar. Jembatan Pusung Sidodadi tersebut memiliki panjang bentangan 16 meter dan lebar 5 meter. Sedangkan tinggi jembatan dari dasar sungai 10,5 meter.

Dia menambahkan pondasi bagian bawah jembatan masih aman. Air yang masuk melalui retakan itu sebagian besar dari atas. Secara struktur, pembangunan jembatan itu juga sudah sesuai.

“Posisi jembatan sudah penyerahan di akhir November (2019), posisinya kini masih dalam masa pemeliharaan (rekanan) sampai dengan 2 Juni 2020. Pihak rekanan masih bersedia untuk segera melaksanakan perbaikan. Tadi sudah dapat laporan, sudah ada beberapa tenaga yang mulai menata kembali,” pungkasnya,