FOKUS JATENG-BOYOLALI-Sukinem (45) Warga Dukuh Klentengan Rt 04, Rw 01 Desa Gunungsari, Kecamatan Wonosegoro ini juga menderita penyakit langka dan membikin setiap orang tak tega melihatnya. sudah sejak tahun 2009 atau kurang lebih 11 tahun yang lalu, akibat dari penyakit yang dideritanya membuat Sukinem sulit menutup mulut, karena terdapat benjolan yang menggantung di bawah mulut.
Ibu lima anak ini, bagian dagunya membesar kebawah. Jangankan untuk berobat, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja keluarga ini kesulitan. Sebab, Nursam (50), yang bekerja sebagai buruh serabutan tak memungkinkan untuk mengobatkan isterinya.
Sukinem dan Nursam beserta kelima anaknya tinggal dirumah yang kurang layak. Rumah sederhana berukuran 5×7 meter. Rumah yang yang terbuat dari papan dan banyak anyaman bambu itu sudah banyak yang lapuk dimakan usia.
Menurut Nursam, awalnya hanya terdapat bintik kecil dibawah bibir dan gatal. Lama kelamaan membesar. Kejadian ini mulai terjadi sejak 2009. Pihak keluarga sudah berupaya memeriksakan ke dokter, namun belum berhasil.
“Saya berharap isteri saya ada yang mengobatkan. Karena saya tidak memiliki biaya,” kata Nursam.
Penderitaan yang dialami Sukinem pun memantik simpati Dandim 0724/Boyolali Letkol Inf Aris Prasetyo. Melalui Pasilog Kodim 0724/Boyolali Kapten CBA Setyo Agus Wahyudi dan Danramil 17 Wonosegoro Kapten Arh Iswadi Yusuf bersama relawan ACT (Aksi Cepat Tanggap) Boyolali mengunjungi Sukinem untuk memberikan dorongan moral serta berupaya mencari solusi pengobatan.
Danramil 17 Wonosegoro Kapten Arh Iswadi Yusuf menjelaskan kedatangan rombongannya untuk memberikan semangat dan motivasi agar Nursam dan Sukinem tabah dan kuat menjalani cobaan.
“Sudah menjadi kewajiban anggota TNI untuk peka dan peduli yang menimpa keluarga Ibu Kinem ini. kami peduli untuk membantu, sekedar untuk meringankan kebutuhan keluarga dan paket sembako untuk beberapa waktu ke depan kami bantu,” katanya.
Adapun bantuan yang disalurkan, menurut Danramil, berupa paket sembako tersebut salah satunya merupakan bantuan sosial dari Danrem 074 Warastratama Kolonel Inf Rano Tilaar.
Salah satu relawan ACT, Ardiawan Kurniawan Santoso (35) menambahkan sudah berulangkali diupayakan kesembuhan bagi Sukinem, termasuk dari pemerintah melalui BPJS, bantuan dari pemerintah desa maupun relawan. Selanjutnya di tahun 2018 atas bantuan donasi dari berbagai pihak yang dihimpun para relawan, Sukinem sempat dirawat selama 14 hari di RS Moewardi Solo untuk melakukan operasi, namun pihak RS tidak berani mengambil tindakan operasi karena kondisinya yang drop saat itu.
“Sudah dibawa ke RS Moewardi untuk dioperasi. Namun kondisi Sukinem ngedrop, jadi dokter tak berani melakukan operasi. Kali ini, setelah dilakukan pendampingan rencana ke depan Ibu Kinem sudah mantap akan melaksanakan operasi sembari menunggu kesiapan mentalnya,” ujarnya.
Disisi lain, pihaknya juga berniat menggalang dana, selain untuk kebutuhan pasca operasi Sukinem. Dana tersebut juga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah kelima anaknya. “Dengan dukungan berbagai pihak termasuk jajaran TNI, kami berupaya menghimpun dana untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan ke lima anak Ibu Kinem. kalau untuk pengobatan bisa didukung dari BPJS,” pungkasnya.