FOKUS JATENG-BOYOLALI-Menuju pemerataan pendidikan, sesuai ketentuan zonasi oleh Kemendikbud. Pemkab Boyolali bakal merelokasi SMP 1 Sawit.
Hal itu harus dilakukan mengingat sistem zonasi memungkinkan setiap anak mendapatkan sekolah yang dekat tempat tinggalnya. Sehingga tidak terhalang oleh jarak rumah ke sekolah. “Untuk tingkat SMP juga kami petakan,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Darmanto.
Menurut Darmanto, berdasarkan hasil pemetaan, maka satu SMP akan dipindahkan dan bakal dibangun dua SMP lagi. Adapun yang dipindahkan adalah SMP 1 Sawit yang berada di Desa Kateguhan dan akan dipindah ke wilayah Desa Tlawong.
“Hal ini mengingat tiga SMP di Sawit yaitu, SMP 1, SMP 2 dan SMP 3 semunya berada di sisi timur wilayah Kecamatan Sawit,” katanya.
Selama ini, lanjut Darmanto, tidak sedikit masyarakat yang berada di wilayah Sawit sisi barat merasa kurang terlayani dalam hal pendidikan. Alasannya, para calon siswa agak kesulitan jika mau melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. “Untuk itulah, maka pemindahan dirasakan mendesak,”imbuhnya.
Bahkan, rencana tersebut sudah masuk dalam pembahasan DPRD. Disebutkan bahwa pembangunannya akan dilakukan secara multiyears. Tahun pertama pada tahun 2021 dengan membangun tujuh kelas senilai Rp 2 miliar lebih. Hanya saja, dana tidak termasuk untuk pengadaan tanah. Nantinya, pemindahan sekolah pun dilakukan bertahap.
Selain itu, pihaknya juga berencana membangun satu SMP baru di wilayah Kecamatan Boyolali Kota. Bangunan baru direncanakan di Desa Penggung sehingga turut mempermudah para siswa yang tinggal di wilayah Kecamatan Ampel sisi selatan.
“Dengan SMP baru tersebut, maka di Boyolali Kota bakal ada tujuh SMP negeri. Diharapkan, nantinya para siswa bisa melanjutkan sekolah dengan baik,”ujarnya.
Adapun usulan pembangunan SMP baru di wilayah Kecamatan Tamansari, Darmanto menyatakan sudah dilakukan kajian- kajian. Diakui, saat ini wilayah kecamatan hasil pemekaran Kecamatan Musuk ini baru ada sebuah SMP.
“Masalahnya, kami tidak mungkin membangun sekolah baru yang berdiri sendiri. Akan tetapi membangun gedung baru yang tetap menginduk pada sekolah yang ada,” pungkasnya.