Guguran Erupsi Merapi Sebabkan Hujan Abu Vulkanis di Wilayah Musuk-Tamansari Boyolali

Wilayah Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Musuk, Boyolali, diguyur hujan abu vulkanis. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Gunung Merapi kembali luncurkan awan panas dan guguran yang terjadi sekitar pukul 02.37 WIB. Data dari BPPTKG, terjadi awan panas guguran satu kali dengan jarak luncur 1.800 meter ke Kali Krasak dan Boyong. Tinggi kolom 500 meter di atas puncak angin bertiup ke timur.

Dampak kejadian tersebut sempat dirasakan sebagian warga di kawasan lereng Merapi, yakni terjadinya hujan abu vulkanik yang mengguyur sejumlah desa di wilayah Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali.

Wilayah ini berada di lereng Gunung Merapi sisi timur pada Selasa (19/10/2021) sekitar pukul 03.00 WIB.
“Saat saya bangun tidur keluar rumah sekitar pukul 03.00 WIB, suaranya kemritik, ternyata hujan abu,” ujar Tumin (60) warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Selasa (19/1/2021).

Hujan abu, Selasa dini hari itu, menurut sebagian warga di kawasan lereng Merapi sisi timur mendengar suara gemuruh. Tak hanya itu saja, hujan abu juga membuat petani di Kecamatan Musuk was- was. Mereka khawatir hujan abu bisa merusak tanaman mawar yang ditanam di areal perladangan. Untuk itu, petani pun sigap membersihkan abu yang menempel pada tanaman.

“Iya, sekitar pukul 03.00 WIB, dengar ada suara gemuruh, terus hujan abu,” katanya.

Menurut Tumin, hujan abu yang mengguyur dua wilayah ini cukup tipis. Abu vulkanik terlihat menempel di dedaunan, jalan serta barang-barang yang ada di luar rumah. Kondisi jalan, dedaunan dan sebagian atap rumah warga pun terlihat berwarna memutih karena tertutup abu vulkanik tersebut.

Warga lainnya, Sartono (45). Dia mengaku pukul 04.00 WIB bangun tidur untuk menjalankan shalat subuh. Kemudian dia ke kebun untuk memeriksa tanaman bunga mawar miliknya. “Ternyata kondisinya sudah hujan abu, di bunga mawar juga sudah menempel abu seperti ini. Untungnya, saat ini musim hujan, sehingga abu cepat larut kalau terkena hujan,” kata Sartono.

Kendati sempat terdengar suara gemuruh tidak terlalu keras dan durasinya tidak lama disusul terjadinya hujan abu tipis. Menurut Sartono, warga tetap beraktivitas seperti biasa, namun waspada seperti himbauan yang sudah disampaikan perangkat desa.