Agar Nilia-nilai Pancasila Tak Tergerus Moderisasi

Ichwan P

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Wiryanta (masker putih) saat dialog interaktif di TA Radio bersama akademisi dari FISIP UNS. (Ichwan P/Fokusjateng.com)

FOKUSJATENG – SOLO – Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunuikasi Publik, Kominfo menggelar dialog interaktif di Studio TA Radio 105.05 MhZ Jalan Brigjen Katamso, Mojosongo, Solo pada Sabtu (20/02/2021).

Menampilkan narasumber akademisi FISIP UNS (Universitas Sebelas Maret Surakarta), Sudarsono, dialog ini mengusung tema “Nilia-nilai Pancasila Dalam Rangka Membina Kebersamaan dan Kepedulisan Dalam Mewujudkan Masyarakat Damai dan Sejahtera”.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Wiryanta mengatakan, dialog tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan secara Holistik dan komprehensif  tentang nilai nilai Pancasila kepada masyarakat, sehingga nilai nillai yang terkandung dalan Pancasila tidak pudar di telan dan tergerus  era moderniasasi.

“Saat ini perubahan informasi yang terjadi di masyarakat tidak lagi dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam hitungan skala menit dan detik. Sementara dari aspek media yang ada memiliki sifat dasar bisa memperluas isolasi moral dari lingkungan dalam waktu bersamaan juga mengasingkan orang dari realitas personal,” terang Wiryanta yang juga jadi nara sumber dalam dialog yang dipandu Rena tersebut.

Untuk memaksimal peluang sukses kegiatan komunikasi, pemanfaatan media bisa dipadukan dengan komunikasi langsung dan pemanfaatan saluran komunikasi yang berbasis pada komunitas. “Namun demikian, waktu pelaksanaan sosialisasi bukan hanya sesaat. Bahkan, lanjut Wiryanta, membutuhkan hampir seumur hidup,” imbuh Wiryanta.

Oleh karena itu, tujuan sosialisasi melalui media bukan hanya memberikan pemahaman akan karakter bangsa, tapi juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan konsekuensi tindakan dan kemampuan memilih secara rasional dalam setiap konteks hubungan sosial.

“Sosialiasi juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan kemampuan melakukan penilaian antara baik dan buruk dan mengontrol sikap dan perilaku agar sejalan dengan nilai-nilai karakter bangsa,” lanjut Wiryanta.

Ada tiga sifat alami media berkaitan dengan konstruksi pendidikan karakter bangsa menurut Wiryanta. Pertama, sebagai intensifier, yaitu memunculkan atau mempertajam konten pendidikan karakter bangsa. Dengan posisi sebagai intensifier, media bisa menyebarluaskan informasi pendidikan karakter bangsa sehingga menjadi perhatian bagi khalayak sasaran.

Kedua, sebagai deminisher, yakni media menenggelamkan beragam konten pendidikan karakter bangsa. Secara sengaja media meniadakan pendidikan karakter bangsa, terutama bila menyangkut kepentingan ideologi atau pragmatis media.

Ketiga, media menjadi pengarah, yakni media menjadi mediator dengan menampilkan pendidikan karakter bangsa dari berbagi perspektif serta mengarahkan pihak-pihak yang berkepentingan pada upaya dukungan bagi pendidikan karakter bangsa. Sosialisasi dapat dipahami sebagai kegiatan komunikasi ditujukan untuk membentuk kesadaran, mempengaruhi persepsi dan sikap individu, kelompok, atau masyarakat.

Sementara akademisi dari FISIP UNS, Sudarsono mengatakan, perlu ada perhatian khusus pada permasalahan yang ada, mendalami serta mengupayakan langkah-langkah penyelesaian maupun antisipatif. Perlu diupayakan peningkatan akan pemahaman, penghayatan, implementasi dan pelestarian akan wawasan kebangsaan kita seperti tersurat dan tersirat dalam falsafah bangsa.

Seperti Bhineka Tunggal Ika”, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,  maupun kearifan-kearifan lokal seperti ;  kekeluargaan dan persaudaraan sejati antar suku, ras, golongan, daerah dan agama;  kerukunan dan toleransi antar umat beragama maupun suku, ras dan golongan,” terang Sudarsono dalam acara tersebut.