FOKUS JATENG-BOYOLALI-Di tengah Pandemi Covid-19, kerajinan logam di kawasan industri kerajinan logam di Cepogo masih eksis menerima pesanan luar negeri. Kendati menghadapi kenaikan harga logam serta harus bersaing dengan produk asing, namun hingga akhir pertengahan April 2021 permintaan justru meningkat.
“Kenaikan harga logam per lembar mencapai 25 persen, untungnya jumlah itu diimbangi dengan meningkatnya permintaan,” kata Manto (53) perajin logam pemilik PT Pamungkas, di Dusun Tumang, Desa Banaran Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Sebelumnya harga bahan baku logam kuningan dengan ukuran tebal satu milimeter rata-rata sekitar Rp1,8- 2,2 juta perlembarnya. Kini berkisar antara Rp 2.250-2,5 juta perlembarnya. Sedangkan Logam kuningan yang paling tebal dari harga Rp 12 Juta per lembar, kini tembus Rp 15 juta.
Manto mengakui untuk saat ini, kenaikan harga bahan baku logam ini tak sebanding dengan harga jual produk kerajinan. Langkah itu memang harus dilakukan untuk menghindari pelanggan pindah dengan memesan produk kerajinan tembaga dari negara lain.
“Naiknya (bahan baku ) luar biasa. Ya nanti harga jual produk juga akan kita naikkan tetapi secara bertahap,” ujarnya.
Disebutkan bahan baku logam kuningan yang kualitasnya bagus, harus mendatangkan dari Jepang, Itali dan Bugaria. “Untuk mendapatkan logam yang baik, para perajin selalu terkendala modal, tetapi apapun kami lakukan meskipun harus menggadaikan lahan pertanian,” sambungnya.
Adapun pesanan dari luar negeri, menurut Manto, sebagian besar produk kerajinan berupa interior rumah dan tempat ibadah. Terutama dari Australia dan Arab yang banyak memesan langsung kerajinan kuningan. Hanya saja, untuk pengiriman ke Arab sempat mengalami kendala. Bahkan beberapa pesanan produk yang telah selesai dikerjakan belum dapat dikirim ke Arab.
”Sejak awal tahun ini mulai membaik. Ada pesanan seperti interior gereja, dan lampu taman hingga kubah masjid,” katanya.
Menurut dia, produksi kerajinan logam Tumang memiliki kualitas bagus dan digemari konsumen luar negeri, karena memiliki desain khas yang dikerjakan secara manual, sehingga berani bersaing dengan produk pabrikan luar negeri.
“Kami produk menang didesain dan semuanya dibuat dengan cara tradisional sehingga sulit ditiru,” pungkasnya.