Kepala Dinkes Boyolali: Stunting di Boyolali Tinggal 8,9 Persen

Aksi percepatan penurunan stunting di Pendopo Ageng Kompleks Kantor Terpadu Pemkab Boyolali, Selasa (15/6/2021). (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Kasus stunting atau gangguan tumbuh kembang Boyolali, tinggal tersisa 8,9 persen. Hal tersebut dikatakan, Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina, ditemui usai mengikuti acara rembuk aksi percepatan penurunan stunting di Pendopo Ageng Kompleks Kantor Terpadu Pemkab Boyolali, Selasa (15/6/2021). Menurut Ratri, angka ini sudah mendekati target prevalensi yang ditetapkan pemerintah sebesar 14 persen.

“Dibandingkan angka nasional ini sudah bagus, karena nasional itu targetnya harus kurang dari 14 persen. Namun untuk menjaga supaya tidak terjadi pengulangan atau kenaikan kasus stunting maka komitmen itu tetap harus dibangun,” ujarnya.

Menurut Ratri jumlah kasus stunting di Boyolali mencapai 5.665 balita. Jumlah tersebut 8,9 persen dari jumlah Balita di Boyolali sebanyak 63.576 orang.

“Jumlah kasusnya (Stunting) di Boyolali, dari data terakhir per Februari 2021 ini total keseluruhan sejumlah 5.665 balita stunting. Usia 0-5 tahun, jadi sampai 60 bulan. Dari total semua balita sebanyak 63.576. tersebar di semua kecamatan (21 kecamatan). Paling banyak di Kecamatan Andong sebanyak 502, Ķecamatan Klego 479. Paling sedikit di Kecamatan Nogosari jumahnya 6,” ungkap katanya.

Ia mengemukakan untuk menurunkan kasus stunting, adalah dengan menggelar kegiatan Rembug Percepatan Penurunan Stunting, sekaligus untuk menguatkan komitmen dari seluruh lintas sektor dan pihak-pihak yang terkait untuk menurunkan kasus tersebut. Diharapkan dengan adanya sinergisitas dari semua pihak yang terkait tersebut, nanti di tahun-tahun mendatang akan bisa menurunkan angka kejadian stunting di Kabupaten Boyolali.

“Karena untuk program stunting ini merupakan program jangka panjang. Karena hasil akhirnya baru akan terlihat setelah 25 tahun, setelah anak-anak yang kita intervensi sekarang mereka menjadi dewasa, menjadi manusia yang produktif,” imbuhnya.

Berikutnya adalah melakukan intervensi. Ada dua intervensi yakni intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.
“Intervensi gizi spesifik ini wilayahnya (Dinas) Kesehatan. Jadi kita memberikan zat besi untuk remaja putri, ibu hamil, kita berikan PMT balita, berikan pelayanan kepada ibu hamil sampai ibu nifas juga dipantau gizi dan PMT-nya. Juga memberikan vitamin A. Ini manfaatnya hanya 30 persen untuk mencegah kejadian stunting,” paparnya.

Dengan demikian intervensi dari berbagai sektor ini penting untuk menurunkan angka kejadian stunting di Boyolali. Jika tidak diintervensi, maka angka kejadian stunting itu bisa muncul karena kelemahan dari sektor-sektor

“Sedangkan yang 70 persen itu miliknya lintas sektor yang kita sebut intervensi gizi sensitif. 70 persen itu terbagi menjadi banyak sektor, yang terkait dengan sanitasi, sosial ekonomi, pendidikan, ketersediaan pangan, air bersih, program KB, program kesehatan lingkungan yang lain,” pungkasnya.