Pengrajin Tembaga Tumang Cepogo Boyolali Ikut Terdampak Sulitnya Pasokan Tabung Oksigen

Pengrajin tembaga Tumang Cepogo Boyolali tetap produksi meski kesulitan tabung oksigen. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Mulai sulitnya pasokan tabung oksigen di wilayah Boyolali, tidak hanya membuat rumah sakit dan warga yang melakukan isolasi mandiri (Isoman), kelimpungan. Namun, seperti industri kerajinan tembaga Tumang, Cepogo, pun mulai turut terdampak dari semakin menipisnya pasokan tersebut.

Sebagaimana disampaikan Sekretaris Muda Tama Gallery 2, Kupo, Tumang Cepogo, Aji Prasetyo ini, menjelaskan jika industi kerajinan tembaga sangat tergantung pada ketersediaan tabung oksigen untuk pengelasan. Sehingga, jika tidak ada tabung oksigen, maka bisa dipastikan produksi kerajinan tembaga akan tutup sementara waktu.

“Tidak hanya bahan baku yang harganya naik, akan tetapi pasokan oksigen juga terhenti sejak awal Juli. jika masih ada tabung gas oksigen yang tersisa, harganya sudah tiga kali lipat,” katanya.

Dijelaskan sejak awal Maret lalu, harga bahan baku selalu naik hingga 50 persen. Normalnya bahan baku perlembar dengan ukuran 1×2 meter seharga Rp 1,8 juta. Namun sekarang naik menjadi Rp 3,5 juta. Hal itu masih tambah terhentinya pasokan oksigen ini membuat produksi terhenti hampir satu bulan. Dikarenakan harga tabung gas yang normalnya Rp 80-90 ribu naik menjadi Rp 350 ribu pertabungnya.

” Kami sempat kaget bahan baku hampir setiap hari naik terus. Padahal penjualan sedang susah. Bahan baku mahal dan oksigen juga susah. Penjualan juga sulit karena tidak bisa ekspor. Jadi selama PPKM ini hanya mengandalkan pembeli lokal saja. Padahal sebelum pandemi, setiap minggu dan tiap bulan pasti kirim ekspor” ujarnya.

Senada, perajin Nuansa Gallery, Mamik Sri Ningsih. mengaku pernah ditawari satu tabung gas seharga Rp 350 – Rp 500 ribu. Padahal normalnya dia bisa membeli dengan harga Rp 80 ribu pertabung. “Susahnya oksigen berdampak besar sekali bagi kami. Karena proses penyambungan, kami menggunakan las yakni perpaduan oksigen dan asitilin. Harga oksigen dari Rp 80 ribu/tabung naik sampai Rp 500 ribu/tabung,” ungkapnya.

Pihaknya memilih berhenti produksi sementara. Namun, jika terpaksa dia akan berkeliling mencari perajin lain yang masih memiliki stok oksigen. Selain itu, dia memilih membuat kerajinan yang tidak perlu nggunakan las. Ditambah lagi bahan baku naik pasca lebaran ini. Mau tak mau, Mamik menaikan harga jual kerajinannya sampai 60 persen.

“Kami masih berupaya bertahan meski kerajinan belum tentu bisa naik harganya, apalagi penjualannya kalau tidak pakai diskon susah lakunya,” pungkasnya.