FOKUS JATENG-BOYOLALI-Pamuji Slamet (54) warga Dukuh Karanglor, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, dan kedua anaknya, Bayu dan Miko mengalami kelumpuhan. Kesehariannya hanya diisi dengan duduk di atas kursi roda.
Selama ini hanya Heppy (19) anaknya yang masih duduk di kelas 1 SMA, yang merawat ayah dan kedua kakaknya. Sedangkan ibunya, Mujiani (52) sebulan lalu akibat Covid-19.
“Saya tidak bisa bekerja lagi dan semua menggantungkan pada anak saya yang bungsu,” ujar Pamuji.
Sebelum cobaan beruntun ini, dia memiliki usaha penggilingan padi. Dia biasa menebas padi dan dikeringkan lalu digiling sendiri. Hasil beras kemudian dijual kepada para bakul di pasar- pasar.
“Sejak stroke, penggilingan padi dijalankan Bayu. Setelah bayu kecelakaan, semua dijalankan istri saya,” katanya.
Namun cobaan tak juga berhenti. Istri Pamuji, Mujiyani yang juga ibu dari anaknya meninggal dunia sebulan lalu akibat Covid-19. Praktis tulang punggung keluarga pun tidak ada. Usaha penggilingan padi juga tak bisa dijalankan.
Atas kondisi tersebut Pemerinta Desa Jurug dan Kecamatan Mojosongo terus berupaya mencari cara menolong Pamuji Slamet dan keluarganya yang kini tak bisa bekerja.
“Kami terus mencari langkah terbaik bersama Pemerintah Desa Jurug untuk menolong Pak Pamuji dan keluarganya,” ujar Camat Mojosongo, Tusih Priyanta, Kamis (16/9/2021).
Setelah ada bantuan kursi roda bagi dua anak Pamuji, Miko dan Bayu, maka upaya lain adalah mencarikan bantuan untuk menopang kehidupan sehari- hari. Langkah ini berhasil dengan cairnya bantuan sosial tunai (BST) program keluarga harapan (PKH).
“Tentu ini tidak cukup, kami berusaha mendapatkan bantuan dari Baznas.”
Upaya lain adalah mencarikan beasiswa agar Hepi tidak kesulitan melanjutkan sekolah di SMAN 1 Boyolali. Padahal, beban Heppy di dalam keluarganya sangat berat. Mengingat kini dia menjadi tumpuan seluruh anggota keluarga.
Kades Jurug, Kecamatan Mojosongo, Edi Nugroho menambahkan Pamuji Slamet lumpuh karena terkena stroke.
Kemudian, anak sulungnya, Miko lumpuh sejak kecil. Anak kedua, Bayu (21) lumpuh akibat kecelakaan lalu lintas. Praktis, mereka tinggal bergantung saja pada anak bungsu, Hepi yang kini kelas I SMA. Setiap hari, Hepi menjerang air dan menanak nasi serta membersihkan rumah. Sedangkan untuk lauk dan sayur dibantu familinya yang tinggal sebelah rumah serta lewat program Jogo Tonggo.
“Juga ada bantuan rutin dari pemerintah. Namun itu tentu tidak cukup,” katanya.
Pihaknya terus berupaya mencari jalan agar Pamuji Slamet dan keluarganya memiliki sumber penghasilan. Yaitu, membuka kembali usaha penggilingan padi milik keluarga yang kini terhenti. Juga memikirkan biaya sekolah Hepi, anak bungsu Pamuji yang kini mulai masuk di SMAN 1 Boyolali.
“Meski harus duduk di kursi roda, Bayu siap memegang kendali. Hanya perlu tenaga yang menjalankan mesin penggilingan. Juga modal usaha. Untuk penjualan beras, bisa kerjasama dengan famil Pak Pamuji,” ujarnya.