FOKUS JATENG- BOYOLALI-Kendati pandemi sudah sedikit mereda, warga Boyolali diminta selalu waspada dan tetap menerapkan prokes. Karena penyakit endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi ancaman saat menjelang musim penghujan ini.
Data Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Boyolali mencatat, selama 11 bulan belakangan terdapat 111kasus DBD. Dari jumlah ini ada tiga kasus meninggal dunia. Meski relatif lebih sedikit dibanding tahun lalu, dinkes tetap mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada. Sebagai informasi, Data Badan Pusat Statistik (BPS) Boyolali menunjukkan kasus DBD di Boyolali pada 2020 mencapai 98 kasus. Jumlah tertinggi DBD pada tahun ini ada di Kecamatan Nogosari dengan 19 kasus.
Angka ini jauh lebih rendah dibanding tahun 2019. Pada 2019, jumlah kasus DBD di Boyolali mencapai 443 kasus. Angka tertinggi ada di Kecamatan Boyolali dengan 60 kasus.
Menurut Kepala Dinkes Boyolali, Puji Astuti, saat ditemui wartawan di kantornya beberapa waktu yang lalu. Penanganan kasus DBD di Boyolali juga menjadi salah satu atensi. “Karena itu memang penyakit tahunan, yang setiap tahunnya selalu ada,” tambahnya.
Untuk menanganinya, Puji meminta warga menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing.
“Fogging dilakukan kalau ada kasus baru selain kasus pertama di kawasan tersebut. Fogging hanya psikososial saja, tidak menyelesaikan masalah,” katanya.
Ia menjelaskan Dinkes selalu menggelar suriveilans setiap kemunculan kasus baru. Surveilans ini untuk mengetahui apakah penderita DBD benar tinggal di kawasan itu termasuk mengetahui apakah keluarga lain memiliki gejala yang mengarah ke DBD.
“Jadi, secara realtime akan tercatat, jumlah kasus DBD dan di wilayah mana saja. Setelah itu, tim kami bisa langsung memverifikasi, apakah benar di wilayah itu ada kasus DBD atau tidak. Bisa jadi mungkin seorang pasien DBD sakitnya di indekos. Terus pulang atau sebaliknya. Di sinilah pentingnya surveilans,” ujar dia.
Ia menambahkan, aksi program PSN sebetulnya menjadi kegiatan rutin. Kini, Bahkan di tingkat RT sudah ada kegiatan pantau pentik nyamuk dari rumah ke rumah. Ada beberapa kondisi yang harus diperiksa di lingkungan rumah yang berpotensi muncul genangan seperti kaleng bekas, ember bekas, hingga pelepah daun pisang.
PSN juga digelar melibatkan bidan desa sebagai penggerak. Selain itu, program ini menggandeng pemerintah kecamatan.
“PSN kan kegiatan rutin. Kami tinggal manasin mesin lagi yang agak terlena saat musim kemarau. Begitu ada genangan, mulai hujan, kami giatkan lagi. Pada intinya perkuat kebersihan lingkungan,” kata Puji menambahkan program PSN kerap disebut dengan metode 3M plus (menguras, mengubur atau memilah sampah dan menutup tempat-tempat penyimpanan air). Juga pemantauan jentik-jentik nyamuk dengan program satu rumah satu pemantau.
Cegah DBD, Dinkes Boyolali Ajak Warga Antisipasi Nyamuk di Musim Penghujan

ilustrasi nyamuk aides aegypti penyebab DBD (/Fokusjateng.com)