FOKUS JATENG – SOLO- Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menggelar Webinar bertema “Refleksi Tahun 2021: Pancasila dan Ke-Indonesiaan Kita di Era Digital” (Senin, 20/12/21).
Acara Webinar PSPP bertema “Refleksi Tahun 2021: Pancasila dan Ke-Indonesiaan Kita di Era Digital” dengan Keynote Speaker Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum (Rektor UNS) menghadirkan 3 (tiga) orang Narasumber, yakni Drs. Mohammad Toha, M.Si (Anggota DPR RI Komisi II), Dr. Eka Khristiyanta Purnama, M.Pd (Koordinator Substansi Produksi Media PTP Ahli Madya Pusdatin Kemendikbudristek RI) dan Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum (Guru Besar Prodi PPKn UNS Surakarta) dengan Moderator acara Dr. Bramastia, M.Pd. (Dosen Pascasarjana FKIP UNS).
Sambutan awal dari Dr. H Purwanta, MA mewakili Prof Dr. Leo Agung S, M.Pd selaku Kepala PSPP UNS Surakarta yang menyampaikan bahwa kegiatan ini mengingatkan tahun 1970-an, ketika Presiden Soeharto memanggil Hatta dan bersama empat orang lainnya yang kemudian menjadi panitia 5 menanyakan tentang pengertian Pancasila. Pancasila adalah ideologi yang menjadi koreksi ideologi yang ada saat itu, tetapi dalam konteks kekinian, yakni di era digital ini apakah Pancasila masih menjadi ideologi koreksi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang Dr. H Purwanta, MA.
Kemudian sambutan dari Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum selaku Rektor UNS yang menyampaikan bila hadirnya era globalisasi dan revolusi 4.0 menghasilkan society 5.0 menjadikan semua lini kehidupan terhubung. Tantangan dirasakan generasi muda dalam berkehidupan berbangsa, dan generasi muda menjadi komunitas yang terdepan dalam menyongsong perubahan karena mereka adalah generasi yang kreatif, inovatif, cepat belajar, suka tantangan baru dan open mind,” kata Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum.
Dalam hal ini, keterbukaan juga membukakan ruang kerawanan sosial yang bisa mengakibatkan lunturnya nilai-nilai kebangsaan, seperti halnya toleransi, tepo sliro, kebersamaan, dan gotong royong. Sehingga di era digital, Pancasila menjadi ideologi alternatif untuk mengembalikan jati diri dan identitas kebangsaan yang akhir-akhir ini terkoyak akibat ruang media sosial, seperti ekslusivisme sosial, politik identitas, dan tantangan implementasi pancasila di era kekinian,” terang Rektor UNS Surakarta.
Catur Pusat Pendidikan
Dengan dipandu Dr. Bramastia, M.Pd selaku moderator acara, lantas dilanjutkan narasumber Drs. Mohammad Toha, M.Si dari Komisi II DPR RI menyampaikan mengenai re-internalisasi Pancasila, dimana re-internalisasi merupakan proses penghayatan kembali falsafah negara dalam segala lini kehidupan sehingga menjadi sikap dan perilaku sehari-hari. Sehingga dari re-Internalisasi Pancasila sebagai penghayatan terhadap Pancasila dengan cara-cara yang dipahami dan disukai generasi milenial,” kata wakil rakyat yang berada di Komisi 2 DPR RI.
Bahkan, Kemendikbudristek perlu menyusun ulang strategi, metode, dan materi pembelajaran Pancasila di SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi (PT) yang sesuai karakteristik milenial dengan berbasis internet yang menggugah rasa ingin tahu, interaksi siswa/mahasiswa, menginspirasi, merangsang kreativitas dan inovasi, dan mengajak kepada perilaku. Disamping itu, perlu dipikirkan bagaimana Prodi PPKn juga menginisinasi komunitas-komunitas lintas agama, lintas budaya, dan masyarakat adat dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN),” terang Drs. Mohammad Toha, M.Si.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber Dr. Eka Khristiyanta Purnama, M.Pd dari Pusdatin Kemendikbudristek RI menyampaikan tentang keberadaan Pelajar Pancasila sebagai sumber daya manusia (SDM) unggul yang merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Sehingga Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pembangunan Pancasila berperan sebagai alat bantu pembelajaran (E-Learning), Sumber Ilmu Pengetahuan dan Pendukung Manajemen E-administrasi. Harapan bersama semoga kita menjadi bagian dari kreator konten nilai-nilai Pancasila,” terang Dr. Eka Khristiyanta Purnama, M.Pd.
Terakhir, paparan Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum selaku Guru Besar Prodi PPKn UNS Surakarta menyampaikan bahwa Pancasila belum menjadi arus utama dalam pengembangan dan pemanfataan teknologi menyebabkan masuknya nilai-nilai luar dan terjadi konflik digital, sehingga perlu dirumuskan etika ber-internet (netiquette) berdasarkan nilai-nilai Pancasila (R&D). Kedua, belum ada roadmap/ grand design yang jelas dan sistematis untuk pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila di era digital, sehingga perlu dilakukan kampanye (campaign) di dunia digital untuk pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila di dunia digital. Terakhir, perlunya membangun Catur Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat dan internet di era digital ini,” terang Guru Besar Prodi PPKn UNS Surakarta.
Refleksi Tahun 2021: Pancasila dan Ke-Indonesiaan Kita di Era Digital

Webinar PSPP bertema “Refleksi Tahun 2021: Pancasila dan Ke-Indonesiaan Kita di Era Digital” (/Fokusjateng.com)