FOKUS JATENG-BOYOLALI-Makam Wonosegoro di Desa/Kecamatan Cepogo menyimpan benda bersejarah. warga setempat, mengatakan ada benda yang menarik perhatian dimakam tersebut.
Benda itu adalah sebuah batu berbentuk kotak dengan tinggi 1,25 meter. Bagian atas seperti meja dengan ukuran 20 X 30 cm.
Keunikan lain, di bagian atas tersebut terdapat kotak- kotak kecil baik mendatar maupun horizontal. Warga setempat bisa menyebut dengan batu bencet. Yaitu penunjuk waktu yang mengandalkan pergerakan sinar matahari.
“Ada banyak versi tentang watu bencet yang diceritakan turun-temurun,” kata Wakiman (65) warga setempat.
Ada versi yang menyebutkan batu bencet itu adalah penanda waktu shalat berdasarkan pergerakan matahari. “Dulu dibagian atas batu terdapat kayu sepanjang 10 sentimeter. Namun kayu tersebut sudah hilang. Hanya kapan hilangnya, warga tidak tahu,” ujarnya.
Batu tersebut semula berada agak di tengah makam. Sebagai penanda waktu sholat di masjid yang dulu juga berada di makam tersebut. Namun, oleh warga, masjid kemudian di pindah di tempat lain di dukuh setempat.
“Batu bencet juga digeser tempatnya agak ke utara oleh warga karena pelebaran makam,” imbuh Wakiman.
Adapun pemindahan masjid sekaligus pemindahan batu bencet dilakukan warga pada 40 tahun lalu atau sekitar tahun 1980-an. Kini bekas masjid di makam tersebut difungsikan sebagai pelataran.
“Di bagian atas batu juga ada 9 tonjolan batu dengan 11 garis sebagai pranata mongso oleh masyarakat zaman dahulu,” katanya.
Versi yang lain menyebut batu bencet tersebut, biasa digunakan oleh kyai Kebo Kanigoro untuk menentukan mongso atau suatu penanggalan yang berkaitan dengan musim untuk pertanian maupun pekerjaan lainnya. Di Makam Wonosegoro juga menjadi tempat pemakaman Kyai Ageng Kebo Kanigoro, anak Pangeran Handayaningrat dari Pengging yang juga salah satu cicit dari Raja Majapahit Prabu Brawijaya tersebut.
Terpisah, Pengamat Sejarah Boyolali Kusworo mengungkapkan, batu bencet itu sudah masuk pendataan oleh BPCB Jateng. Masyarakat sekitar meyakini bahwa batu ini sudah ada sejak dulu.
“Batu bencet bisa digunakan untuk melihat waktu dan musim,” katanya.
Hanya saja, sejauh ini belum ada kajian dari lembaga terkait. Akan tetapi, menilik di Kabupaten Nganjuk, Jatim di Prasasti Anjuk Ladang terdapat istilah Jayastambha atau tugu kemenangan. Juga di Museum Trowulan juga ada Tugu Kemenangan berbentuk Pilar Batu.
“Jadi batu bencet ini sangat unik dan layak untuk diteliti lebih lanjut,” kata Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) itu.
“Apakah memang hanya pilar batu biasa atau bisa dipakai untuk melihat musim sebagaimana diceritakan penduduk Wonosegoro, Cepogo. Jika benar sebagaimana imformasi warga, maka batu itu adalah peninggalan benda yang menunjukan jejak teknologi di masa lalu,” papar Kusworo.
Ada Benda Kuno Batu Bencet di Dekat Makam Kyai Ageng Kebo Kanigoro

Warga menunjukkan batu bencet di komplek makam Wonosegoro Cepogo. (Yull/Fokusjateng.com)