FOKUS JATENG- BOYOLALI-Mendorong pelajar giat menabung, Pemkab Boyolali menggandeng tiga bank lokal menggalakkan program simpel atau simpanan pelajar. Sehingga, pelajar punya akses untuk menabung di perbankan dan menumbuhkan budaya menabung sejak dini. Tak hanya menjadi sarana menabung yang mudah. Simpel akan dikembangkan untuk transaksi cashless alias non tunai di sekolah.
Di era digital ini, tidak ada batasan jarak dan waktu untuk berkontribusi, untuk itu kami mendorong budaya menabung sejak dini serta sebagai bentuk penerapan edukasi keuangan dan untuk digitalisasi transaksi,” kata Darmadi Kepala Bagian Perekonomian Setda Boyolali. Selasa 29 November 2022.
Saat ini, 16.514 pelajar jenjang SMP hingga SMA telah memiliki rekening simpel, Darmadi mengatakan gerakan edukasi keuangan tingkat sekolah menyasar pelajar SMP dan SMA sederajat.
“Ada gerakan edukasi keuangan ditingkat sekolah, yakni satu siswa satu rekening. Kami mempermudah, karena pihak bank akan datang ke sekolah, membantu pengisian form pembuatan rekening, sampai proses menabungnya nanti. Jadi pihak bank akan datang berkala misal, seminggu sekali untuk mengambil uang tabungan siswa.”
Disebutkan ada tiga bank yang menyediakan layanan simpel. Yakni, untuk pelajar SMP/madrasah dibuatkan rekening di Bank Boyolali dan BPR BKK Boyolali. Sedangkan pelajar SMA/madrasah dibuat rekening Bank Jateng. Rekening ini bisa digunakan secara berkelanjutan. Apalagi siswa tidak perlu datang ke Bank. Cukup menabung di sekolah.
“Jadi pihak sekolah yang melakukan pendataan pelajar yang belum memiliki rekening. Kemudian dibuatkan, tiap pelajar hanya membayarkan Rp 5 ribu untuk pembukaan rekening. Untuk yang siswa kurang mampu tidak ditarik uang pembayaran. Karena dikaver melalui dana corporate social responsibility (CSR) Bank yang bersangkutan,” katanya.
Sejauh ini, pembuatan rekening pelajar ini terus berproses. Adapun tujuan pmbukaan rekening simpel ini, lanjutnya, untuk memudahkan jika ada bantuan, bisa langsung ke rekening siswa yang bersangkutan. Selain itu, juga persiapan edukasi keuangan dan untuk digitalisasi transaksi.
“Nantinya akan dikembangkan menjadi transaksi digital. Sekolah akan disediakan QR code Indonesian standard (QRIS). Sehingga siswa bisa melakukan transaksi secara cashless,” pungkasnya. (*)