FOKUS JATENG-BOYOLALI-Jumlah kasus demam berdarang dengue (DBD) di Boyolali mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Data di Dinas Kesehatan Boyolali menyebut, terhitung sejak awal Januari hingga 1 Pebruari tercatat ada 136 laporan yang masuk. Namun, tidak semuanya didiagnosa DBD. Ada juga yang terkena DD hingga demam sock syndrome. Keduanya memiliki gejala yang hampir mirip DBD.
“Laporan masuk yang masuk ada 136 kasus. Rinciannya, 61 kasus DBD, 64 kasus DD, 8 kasus demam sock syndrome 8 dan dua kasus dengan diagnosa lain. Jadi di bulan ini, jika dibanding dengan tahun lalu ada peningkatan jumlah kasus DBD. Sebulan ini, kasus kematian ada dua. Di Andong dan Boyolali,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Teguh Tri Kuncoro, Rabu 1 Pebruari 2023.
Dijelaskan, sejak minggu pertama hingga minggu ketiga pada 2023 kasus DBD mulai naik. Selama kurun tiga minggu, kasus DBD stagnan cukup tinggi tinggi. Lalu pada minggu keempat memasuki minggu kelima mulai ada penurunan kasus. Yakni, minggu pertama 10 kasus DBD, lalu naik minggu kedua tembus 20 kasus, lalu turun pada minggu ketiga dengan 19 kasus dan minggu keempat dengan 18 kasus.
“Kasus DBD tertinggi ditemukan di Karanggede dengan 15 kasus. Lalu Andong ada tujuh kasus, Juwangi, Nogosari, dan Boyolali I masing-masing lima kasus. Lalu Teras, Sambi dan Kemusu masing-masing empat kasus. Lalu Mojosongo, Sawit, Ngemplak, Simo masing-masing tiga kasus. Sisanya, Cepogo, Banyudono I dan Wonosamudro dua kasus. Sedangkan Ampel dan Boyolali II satu kasus,” paparnya.
Kendati demikian, ada beberapa puskesmas dengan zero kasus DBD dan demam sock syndrome. Seperti Puskesmas Selo, Musuk, Banyudono II, Klego I dan II, Wonosegoro, Gladagsari dan Tamansari. Kemudian, kasus demam sock syndrome ditemukan di Puskesmas Boyolali I dan Andong dengan masing-masing satu kasus.
Pada 2022, tercatat ada 297 kasus DBD dengan empat kasus kematian. Rinciannya, Januari ada 41 kasus, Februari 20 kasus, Maret 21 kasus, April 25 kasus, Mei 18 kasus, Juni 23 kasus, Juli 25 kasus, Agustus 22 kasus, Setember 27 kasus, Oktober 23 kasus, November 27 kasus dan Desember 25 kasus. Lalu melonjak pada awal tahun 2023 dengan 61 kasus.
Untuk itu, pihaknya menyampaikan imbauan kepada warga untuk melakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan cara (PSN) 3 M Plus. Yakni menguras, menutup rapat tempat penampungan air.
“Berikutnya, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas seperti botol plastik, kaleng bekas.” (**)
Kasus Demam Berdarang Dengue di Boyolali Meningkat

Kegiatan fogging ini merupakan salah satu cara untuk mematikan dan memotong siklus penyebaran nyamuk Aides Aegepty (doc/Fokusjateng.com)