Seno Samodro : Boyolali Bisa Jadi Mercusuar Kebudayaan Jawa

Budayawan Boyolali dan Pemerhati Kebudayaan terutama tinggalan Arkeologi, Seno Samodro menerima kunjungan peneliti dari BRIN dan EFEO di Boyolali. (doc/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI- Budayawan Boyolali dan Pemerhati Kebudayaan terutama tinggalan Arkeologi, Seno Samodro menyambut baik Kehadiran Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan EFEO (Lembaga penelitian Perancis untuk kawasan Timur Jauh) di Boyolali.

Jurnalis dan bupati Boyolali yang menjabat pada periode 2010–2015 dan periode 2016–2021 ini mengaku kehadiran EFEO seperti menggugah kembali emosionalnya untuk ikut andil dalam upaya pemeliharaan temuan-temuan yang ada dan menyingkap kembali sejarah peradaban lereng Merapi Merbabu abad-abad yg lalu.

“Sebelum jadi bupati saya juga pernah bekerja di konjen dan tinggal lama di Perancis, jadi kehadiran EFEO ini cukup menggugah untuk ikut mengungkap sejarah panjang Boyolali,” kata Seno usai menerima kunjungan BHS, BRIN dan EFEO dikediamannya, pada Minggu 12 Maret 2023 lalu di Boyolali.

Menurut Seno, dalam pertemuan itu dialog dan pembicaraan berlangsung sangat santai namun menumbuhkan ide ide untuk jalinan kerja sama lebih lanjut.

“Sebagai pemerhati Budaya, saya melihat ada visi yang sama terkait pelestarian dan pemanfaatan kebudayaan ini,” ujarnya.

Seno juga menyambut baik hubungan yang dilakukan oleh Boyolali Heritage Society (BHS) dengan Lembaga kajian seperti BRIN dan EFEO. Menurutnya hal itu merupakan bagian wujud dari elaborasi dan kolaborasi yang melibatkan semua komponen unsur masyarakat baik pemerintah, komunitas dan media,

“Hal ini ke depan tentunya akan bisa menjadi kekuatan dalam melakukan kajian menuju pelestarian dan pemanfaatan kebudayaan,” imbuhnya.

Disisi lain, sesepuh budayawan Boyolali itu memaparkan begitu kayanya Lereng Timur Gunung Merapi Merbabu ini akan jejak tinggalan arkeologi, dimana didalamnya terdapat jejak kebudayaan masa Lampau.

Sehingga tidak ada alasan baginya untuk tidak mendukung pelestarian budaya. Salah satunya upaya pelestarian Batu Prasasti Wonosegoro. Mengingat keberadaan prasasti itu merupakan bukti bahwa masyarakat lereng timur Merapi Merbabu Boyolali ini sudah memiliki budaya baca tulis yang sangat maju sejak tahun 901 Masehi,

“Nah, itu masih ditambah lagi dengan temuan prasasti serta naskah naskah kuno yang ada di wilayah Boyolali ini,” katanya.

Diakhir pertemuan, tokoh pemerhati kebudayaan ini berharap hubungan kerjasama ini terus ditingkatkan. Dengan harapan Lereng Timur Merapi Merbabu terutama Kabupaten Boyolali ini menjadi Mercusuar Kebudayaan Jawa di Indonesia bahkan menjadi Pusat Kajian atau Laboratorium alam bagi Pemajuan dan Pemanafaatan Kebudayaan yang bukan saja di kenal di Indonesia tapi juga di Luar Negeri.

“Karena melalui kenal dengan budayanya maka rasa nasionalisme generasi muda dan masyarakat akan subur.” (*)