Disnakan Boyolali Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Ternak di Daerah Terdampak Abu Merapi

Petugas Disnakan Boyolali melakukan pemeriksaan kesehatan ternak (doc/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG- BOYOLALI-Antisipasi infeksi saluran pernafasan pada ternak akibat abu vulkanik Merapi, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali mengambil kangkah dini dengan melakukan pemeriksaan kesehatan ternak di Desa Tlogolele Kecamatan Selo, Boyolali.
Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakan Boyolali, Afiany Rifdania mengatakan pemeriksaan pertaman difokuskan di Dusun Ngadirojo, Tlogolele. Selain pemeriksaan hewan, pihaknya juga menyuntikan vitamin dan pemberian obat cacing.
“Setelah lima hari pasca erupsi itu, kita lakukan pengecekan kesehatan hewan di Desa Tlogolele. Kemarin itu, kebetulan bersamaan dengan dropping pakan, jadi kami bagi-bagi tugas. Jadi kita hanya disatu dusun dulu, nanti akan kita lanjutkan lagi pemeriksaan berikutnya. Termasuk daerah-daerah lainnya,” jelasnya. Jumat 17 Maret 2023.
Sebanyak 35 ekor sapi di Dusun Ngadirojo, Tlogolele diperiksa dan mendapatkan suntikan vitamin. Dari jumlah sebanyak itu, lanjutnya, tidak ada temuan penyakit yang mengkhawatirkan. Meski demikian, dinas tetap membawa peralatan dan obat ternak lengkap. Tak hanya kesehatannya, nafsu makan ternak juga cukup baik.
“Ya kami berharap erupsi tahun ini tidak sampai berdampak parah seperti 2020 lalu. Kala itu, dinas menerima aduan terkait sapi peternak di lereng Merapi yang sakit saluran pernafasan.”
Dijelaskan, pada 2020 silam, ada dua dusun di Desa Tlogolele yakni Dusun Tlogomulyo dan Tlogolele terkena infeksi pernafasan. Pihaknya melakukan penyisiran dan menemukan hampir seluruh ternak mengalami batuk-batuk. Ada 200 lebih ternak yang sudah mengalami tanda-tanda gangguan pernafasan. Selain itu, efek infeksi baru terlihat seminggu – dua minggu pasca terpapar abu.
Saat itu, abu vulkanik tidak hanya menyerang saluran pernafasan saja, namun juga menyerang pencernaan ternak. Karena jika pakan hijau tidak dicuci terlebih dahulu maka akan ada abu yang menempel. Sehingga ketika dikonsumsi ternak dapat menyebabkan kolik atau nyeri pada usus. Imbasnya akan membuat diare dan lainnya pada ternak. Dinas juga menggencarkan edukasi pada masyarakat. Akan tetapi, lanjutnya, masyarakat sudah cukup pintar. Mereka sudah mencuci pakan ternak itu di air mengalir. Sehingga bisa mengurangi dan tidak berimbas ke hewan ternak. (*)