FOKUS JATENG-BOYOLALI-Bilah potongan bambu diraut halus, benang diulur melingkar mengikat dua bilah bambu membentuk kerangka bidang. Dari tangan terampil ini tercipta lembar demi lembar layang-layang jenis pegon.
Sejak akhir 2019, Solichin telaten membuat berbagai jenis layang-layang. Dari tangan kreatifnya tersebut, ia telah merangkai puluhan jenis layang-layang berukuran besar. Berawal dari iseng dan hobi bermain layang-layang sembari memanfaatkan waktu luang di masa pandemi Covid-19 lalu, warga Dukuh Pulutan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, ternyata bisa bisa mendatangkan rezeki hingga Rp 5 juta.
” Mulainya ya tahun 2019 pas covid itu. Terus buat layangan. Nah ternyata ada minat. Terus bikin lagi sampai sekarang,” katanya. Rabu 2 Agustus 2023.
Berkat keterampilannya, ia sudah mewujudkan puluhan layangan berukuran jumbo tersebut. Layang-layang buatannya terdiri dari berbagai jenis. Dilihat dari ukuran, corak maupun motif layangan. Dibanderol dengan harga relatif mahal, karena Solichin mesti melalui proses perangkaian yang rumit. Namun demikian perajin layang-layang musiman itu pun tak pernah sepi pemesan. Bahkan, pelanggan musti menunggu hingga sepekan untuk bisa mendapatkan layang-layang hasil kerajinanya itu.
” Kalau pesanan ada terus. Ini sudah ada 7 pemesan (layang-layang),” ujarnya.
Baginya, tak sulit untuk membuat layang-layang jenis Pegon ini. Hanya saja, membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama untuk meraut bambu yang telah dibelah. Karena memang, meraut bambu sisiran jadi bulatan panjang. Yang paling vital, lanjut Solichin, ada di bagian tali rangkanya. Semua harus presisi. Jika melenceng satu centimeter saja, dipastikan layangan tidak akan stabil saat diterbangkan.
” Sehari kalau yang besar ukuran 2 meteran itu paling hanya satu buah saja. Tapi kalau yang kecil ukuran 120 sentimeter bisa 2-3 itupun bisa sampai malam,” tambahnya.
Dalam membuat layang-layang ini, Sholichin menggunakan bambu pilihan. Hanya bambu jenis Pethung yang dia gunakan. Bambu besar dan lurus itu dia beli dengan harga Rp 11-12 ribu per batang.
” Satu Bambu ukuran 7 meteran bisa jadi 100an buah layang-layang,” ujarnya.
Meski jumlah produksinya masih terbatas, namun selama musim layang-layang sejak bulan Juni lalu, sudah 90an buah layang-layang yang telah dibuat. Layang-layang hasil kerajinanya itu dia bandrol dengan harga Rp 120-250 ribu tergantung ukuran.
” Kalau yang kecil itu Rp 120 ribu, kalau yang besar Rp 250. Kami juga membuat layang-layang custom. Seperti ada motif wayang, dan lainnya. Untuk custom Rp 750 ribu,” katanya.
Ia meyakini, maraknya permainan layang-layang bisa menjadi berkah bagi keluarganya. Dari penjualan layang-layang ia bisa meraup untung sekitar Rp 4 hingga Rp 5 juta per bulan. “Lumayan hasilnya, per bulan bisa untung Rp 4 sampai Rp 5 jutaan.” (**)
Layang-layang Usaha Sampingan yang Menjanjikan

Layang-layang : Semua harus presisi. Jika melenceng satu centimeter saja, dipastikan layangan tidak akan stabil saat diterbangkan (doc/Fokusjateng.com)