Harga Padi Hasil Panen Ikut Naik

Diperkirakan, tingginya harga padi hasil panen akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan (doc/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Kenaikan harga beras di pasaran, berdampak pada sektor pertanian. Kondisi ini membuat harga padi hasil panen turut terdongkrak naik.
Kenaikan harga padi hasil penen ini, terpantau di Desa Jembungan, Jipangan, Kuwiran dan Desa Sambon, Kecamatan Banyudono. Petani dikawasan tersebut memasuki masa panen. Meski masa panen perdana harga padi tebasan di tingkat petani mengalami kenaikan.
“ Memang , harga tebasan padi di sawah ikut naik,” ujar Gunawan (58) salah satu petani di Desa Jembungan, Senin 11 September 2023.
Menurut Gunawan, para petani desanya lebih suka menjual padi dengan sistem tebasan. Adapun harga tebasan saat ini mencapai Rp 10 juta- Rp 12 juta untuk lahan sawah seluas 2.500 m2 dengan kondisi panen baik. Harga tersebut naik dari sebelumnya yang hanya berkisar Rp 6 juta- Rp 7 juta.
“Jadi penebas menaksir sendiri luasan padi di sawah serta menentukan harganya. Setelah ada kesepakatan, maka panen bisa dilakukan setelah membayar lunas harga tebasnya.”
Diperkirakan, tingginya harga panen tersebut akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan jika pemerintah tidak melakukan operasi pasar atau menggulirkan bantuan sosial beras. Apalagi, kawasan tadah hujan belum bisa ditanami akibat dampak kemarau panjang.
Diakui, kenaikan harga padi ini turut mengatrol pendapatan petani. Karena, kondisi petani saat ini memprihatinkan. Petani lebih sering merugi karena harga beras anjlok dan adanya serangan hama penyakit yang menyerang tanaman padi. Disisi lain, petani tak bisa mengandalkan pupuk subsidi. Untuk sepetak sawah, petani hanya memperoleh pupuk subsidi maksimal 50 kilogram. Padahal kebutuhan pupuk bisa sampai 100- 150 kilogram untuk sekali masa tanam.
“Biaya tanam sekarang juga semakin mahal. Untuk sepetak sawah kisaran luas 2.000- an meter2, petani harus menyiapkan dana hingga Rp 2,5 juta untuk sekali biaya tanam hingga panen. Itu belum termasuk biaya sewa lahan Rp 2,5 juta per tahun. Belum lagi harga pupuk yang selalu naik drastis saat musim tanam tiba.” (**)