Dewan Profesor UNS Gelar Workshop Pentingnya Menulis di Media

FOKUS JATENG-SOLO– Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarkan Workshop Komisi I secara daring melalui aplikasi zoom pada satu pekan lalu. Workshop tersebut mengangkat tema Peningkatan Aktualisasi Diri Guru Besar UNS Melalui Publikasi Ilmiah di Media Massa Populer untuk Mendukung Pencapaian IKU UNS.

Menurut Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D. bahwa salah satu pentingnya acara ini digelar karena menulis di media popular mempunyai trik tertentu.

“Harus kita akui, untuk menulis di media massa tidak semudah yang kita bayangkan. Bahasa yang diinginkan adalah sederhana, komunikatif, dan mudah dicerna oleh masyarakat. Tidak harus masyarakat ilmiah, orang awam pun diharapkan juga dapat menikmati tulisan kita,” ujar Suranto.

Adapun narasumber dalam acara workshop itu adalah Guru Besar dari Fakultas Keolahragaan (FKOR) UNS, yakni Prof. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd. sekaligus Wakil Direktur Bidang Akademik Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana UNS. Kemudian, Amir Machmud NS., S.H., M.H. selaku Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah.

Dalam keterangannya, Prof. Agus menyampaikan materi mengenai “Memantik Passion: Menulis Opini di Media Massa Bagi Profesor”. Dijelaskan, menulis opini tidak bisa dianggap sebagai kemampuan yang mudah. Namun tuntutannya lebih ringan dari kompetensi yang sudah dimiliki dan melekat di setiap profesor karena tugas profesor adalah menulis.

“Menulis opini di koran, media massa, atau majalah sudah menjadi bagian dari karya penelitian yang diakui kredit poinnya. Walaupun proporsinya kecil, namun kecilnya ukuran tersebut bukan berarti tidak penting karena karya itu berada di lukisan besar karya dosen lainnya,” katanya.

Sementara, Amir Machmud NS., S.H., M.H., menyampaikan bahwa memulai adalah kunci yang tidak bisa ditawar. Jika hanya mempunyai gagasan tetapi tidak dicoba untuk dituangkan, maka hanya menjadi gagasan belaka.

“Gagasan yang sebesar dan sepenting apapun menurut banyak orang. Apabila tidak dirumuskan dalam ruangan bahasa dan bisa diakses dengan ringan, maka, kata penting menjadi hilang dalam gagagsan tersebut,” jelas Amir.

Lebih lanjut, Amir menjelaskan ketika gagasan tidak penting tetapi mampu dinarasikan dengan bahasa yang benar, enak, dan renyah maka akan populer. Amir meyakini hal yang dianggap kurang penting akan menjadi berdaya tarik. “Sesuatu banget, kalo kata jaman anak sekarang,” pungkasnya. (Ist)