Sudah Turun Hujan, Petani Tetap Bersihkan Sisa Abu Merapi

Fokus Jateng – BOYOLALI, – Hujan abu gunung Merapi kembali mengguyur sebagian wilayah Boyolali, Jawa Tengah.

Material vulkanik itu terlihat menempel pada dedaunan, rumput, genting rumah maupun bodi kendaraan yang berwarna gelap. Hujan abu itu juga terlihat di sejumlah wilayah lereng Merapi sisi timur, seperti wilayah Desa Suroteleng , Kecamatan Selo, Boyolali.

Menurut warga setempat, belum usai hujan abu turun, mendadak kawasan tersebut diguyur hujan air. Sehingga dampak hujan abu tidak begitu menggangu, kendati demikian petani sayur harus segera membersihkan tanaman sayuran yang terpapar abu vulkanik agar tanaman sayur tidak segera membusuk.

“Tetapi para petani sayur tetap harus segera membersihkan sisa-sisa abu vulkanik yang menempel pada tanaman sayuran,” kata Ngatman petani sayuran di Desa Suroteleng. Selasa 5 Maret 2024.

Dia menjelaskan, hujan abu vulkanik dari erupsi merapi terjadi dua kali yakni Senin 4 Maret pagi dan petang. Menurutnya hujan abu vulkanik terjadi hanya tipis hingga sedang. Kemudian selepas hujan abu hujan air juga turun. sehingga abu yang menempel di sejumlah tanaman tidak begitu pekat.

Lebih lanjut Ngatman mengatakan yang terdampak justru hewan ternak, karena rumput untuk pakan juga terpapar abu vulkanik. Sehingga ia harus harus dibersihkan terlebih dahulu menggunakan air bersih pula.

“Warga Selo ini mayoritas petani sekaligus peternak. Beruntung hujan abunya tipis, kalau abunya tebal ya pakan sapi dan kambing jadi tidak layak konsumsi,” imbuhnya.

Sumadi, warga yang lain menambahkan, meskipun telah diguyur hujan air setelah hujan abu, ia harus tetap membersihkan sisa abu vulkanik dengan cara disemprot air dan pupuk. Hal itu sebagai upaya agat tanaman sayuran miliknya tidak rusak atau bahkan mati.

“Beruntung, saya tidak menanam brokoli, karena butiran abu itu kalau sudah masuk bunga kol, ya sudah tidak bakal tertolong,” imbuhnya.

Menurut Madi hujan abu vulkanik tersebut selain menyelimuti tanaman sayur juga menyelimuti genting rumah, rumput, hingga jalan desa.

“Jalan aspal hingga atap rumah masih terlihat memutih ya, padahal sudah diguyur hujan, memang tidak mudah kok menghilangkan abu vulkanik itu,” katanya.

Sebelumnya, Kalak BPBD Boyolali, Suratno mengatakan pasca tujuh kali Awan Panas Guguran (APG) Gunung Merapi, belasan desa diguyur hujan abu pada Senin petang.

Disebutkan ada empat kecamatan yang mengalami hujan abu tipis hingga sedang. APG terjadi dengan jarak luncur terjauh 2,6 kilometer ke arah barat daya. Sedangkan arah angin mengarah ke timur. Sehingga berdampak pada terjadinya hujan abu untuk wilayah Boyolali.

Setidaknya ada 11 desa di empat kecamatan yang mengalami hujan abu.

“Di Kecamatan Selo hujan abu terjadi di Desa Lencoh dan Suroteleng. Hujan abu tipis dengan durasi 5-10 menit. Lapiran baru dua desa di Selo, karena beberapa desa di Kecamatan Selo memang sedang turun hujan.”

Kemudian di Kecamatan Cepogo hujan abu terjadi di empat desa. Yakni Desa Wonodoyo, Gedangan, Sumbung, dan Paras.

“Sedangkan di Kecamatan Musuk, hujan abu terjadi di Desa Musuk, Cluntang, Sruni, Ringin Larik. Wilayah Kecamatan Tamansari di Desa Lanjaran ada hujan abu tipis. Kondisi masyarakat relatif aman dan terkendali. Tidak ada gangguan berarti,” tambahnya.

Di sisi lain, desa di wilayah KRB III, yakni Desa Tlogolele, Klakah, dan Jrakah tidak ada temuan hujan abu.

“Masyarakat hendaknya untuk tetap tenang, menjaga kesehatan dan bila perlu menggunakan masker agar tidak terkena gangguan pernafasan khususnya di daerah terdampak hujan abu,” tandasnya.(**)