FOKUS JATENG – KLATEN – Memasuki musim kemarau, sejumlah warga di lereng Gunung Merapi mulai mengeluhkan lambannya distribusi bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten.
Warga Desa Sidorejo, Kemalang, Sukiman mengaku, selama memasuki musim kemarau, untuk mendapatkan air bersih keperluan sehari hari ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 230 ribu per tangkinya. Itu pun hanya untuk kebutuhan selama dua minggu.
“Satu tangki 5 ribu liter. Kalau datang musim kemarau harus menyiapkan uang untuk beli air bersih. Ya kalau udah sampai sini harga sudah tinggi Rp 230 ribu. Kalau dulu (2015) hanya Rp 190 ribu sampai Rp 200 ribu,” katanya, Selasa (15/8/2017).
Sukiman mengatakan, di Desa Sidorejo yang terdampak kekeringan di musim kemarau ini ada 210 Kepala Keluarga ( KK) dari 2 RW dan satu RT. “Sampai saat ini belum mendapatkan bantuan air bersih. Katanya didaerah lain sudah mendapatkan drooping air bersih,” kata Sukiman.
Terkait dengan hal itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Bambang Giyanto mengatakan, semula ada 22 desa di 7 kecamatan yang mengalami kekeringan. Kemudian saat ini meluas hingga 25 desa di 7 kecamatan yang masuk rawan krisis air.
“Sekarang ada permintaan untuk drooping air yaitu, Desa Panggang, Talun, Sidorejo dan Tegalmulyo,” kata dia.
Bambang menambahkan, tahun ini, guna mengatasi krisis air bersih tersebut pihaknya menggangarkan Rp100 juta. Namun, apabila dana itu belum mencukupi akan diambilkan dari dana siap pakai (DSP) sebesar Rp500 juta.
“Diperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi September mendatang. Sejak awal Agustus BPBD melakukan droping air bersih, dengan menggunkan 5 unit tengki air berkapasitas 5 ribu liter,” katanya.
Baca juga: