FOKUS JATENG – BOYOLALI – Para petani tembakau di lereng Gunung Merapi-Merbabu berburu sinar matahari hingga Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, Boyolali. Mereka memanfaatkan proyek jalan tol Solo-Semarang untuk proses pengeringan.
Inisiatif petani ini lantaran proses pengeringan di dataran tinggi tidak maksimal. Sehingga proyek tol yang masih tahap pengerjaan itu berubah menjadi hamparan tembakau yang dikeringkan. ”Di atas, lereng Merapi-Merbabu sering mendung Mas. Makanya kami cari sinar matahari di jalan tol,” kata Muslih (25), petani tembakau Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Sabtu 2 September 2017.
Penjemuran tembakau di ruas jalan tol yang belum jadi itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Lantas pengentasannya sekitar pukul 15.00 WIB. Kondisi tol yang sudah dicor beton ini dinilai sangat membantu pengeringan tembakau lantaran bisa menyerap panas cukup maksimal. ”Sekitar lima jam tembakau sudah kering,” kata Didik Setiawan (27), petani tembakau lain dari Dusun Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo.
Pengeringan tembakau ini membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain jaraknya mencapai puluhan kilometer, juga biaya operasional selama proses pengeringan. Yakni transportasi, makan, dan lainnya. ”Kami juga mengeluarkan uang Rp 10 ribu untuk warga sekitar proyek tol. Bagi kami tidak masalah karena butuh pengeringan maksimal demi kualitas,” timpal Solikin, petani asal Cepogo.
Harga tembakau Rajang kering menembus Rp 65 ribu per kg. Hasil panen tahun ini dinilai lebih bagus dibanding tahun sebelumnya (2016). Kualitas tembakau bagus ini tak lepas dari pengeringan yang maksimal.
Armada yang digunakan untuk mengusung tembakau rajangan ini mereka menggunakan pikap. Lantas tembakau sudah dikemas dalam sebuah media yang dinamakan widik (papan penjemuran terbuat dari anyaman bambu). Media widik itu mempermudah menurunkan dan menaikan tembakau di lokasi penjemuran.
Berita Lainnya: